Friday, December 30, 2016

Haul ke 7 Gusdur, Rayon PGMI Bagikan Karya Gusdur

Tags
30 Desember adalah hari wafatnya pahlawan toleransi, Abdurrahman Wahid atau sering disapa Gusdur.

Ada ungkapan, "Gajah mati meninggalkan Gading, Harimau mati meninggalkan Belang, maka Manusia mati meninggalkan nama".

Nama yang ditinggalkan seseorang akan terus dikenang, jika semasa hidupnya banyak memberi manfaat bagi orang lain.

Abdurrahman Wahid atau Gusdur, nama ini akan selalu terus dikenang karena jasa-jasanya begitu banyak bagi bangsa dan negara, termasuk dalam pemikiran-pemikirannya (karya).

Disini, admin hanya ingin berbagi salah satu karya dari Gusdur. Kumpulan tulisan atau pemikiran gusdur yang dibukukan dengan judul: "Islamku, Islam Anda, Islam Kita".

Buku yang akan admin bagikan formatnya, E-book. Jadi, silakan download masing-masing di website kami yang tertera dalam bio.

Semoga bermanfaat.
Silakan Download disini.
__
Note: Sebelum download, baca Bismillah dulu, lalu lanjut Al-Fatihah untuk mbah Gusdur.
Cc: Ahmad Mustaqim (Kader).

Saturday, November 19, 2016

Contact Person PR PGMI 2016

Tags
Kontak ini akan di link kan ke akun facebook pengurus saat ini.

Ketua Rayon: Bayu Sugara 
Wakil Ketua Rayon: Arini Kartika

Sekretaris: Novian Shinta Kurnia 
Wakil Sekretaris: Siti Isnaini

Bendahara: Rohfinatun
Wakil Bendahara: Wuri Handayani

Ketua 1 (Biro pengembangan dan pembinaan kader): M. Iman Saridin
Ketua 2 (Biro organisasi dan  hubungan alumni): Anisa Riski
Ketua 3 (Biro dakwahkomunikasi dan pengembangan masyarakat): M. Fatoni
Ketua 4 (Biro pengembangan dan pembinaan perempuan): Miftakhul Munawaroh


Sedikit Tentang PMII Rayon PGMI

Tags
PMII atau Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia adalah organisasi kemahasiswaan yang berideologi Aswaja dan berasaskan Pancasila. Organisasi yang terstruktur mulai dari Pengurus Besar (PB), Pengurus Koordinator Cabang (PKC), Pengurus Cabang (PC), Pengurus Komisariat (PK), dan Pengurus Rayon (PR). Jadi, kami berada pada struktur paling rendah. Meskipun ter-rendah, semangat pergerakan kami pasti lebih tinggi dari mereka yang diatas. SALAM PERGERAKAN!!! || © PR PGMI Komisariat Jurai Siwo Metro Lampung



Semangat Hidup

Oleh: Khoirul Anwar (Kader)


"Yang membuat selalu optimis dan berkembang adalah tujuan-tujuan dalam hidup kita"

Marilah lihat kata-kata motivasi sukses di atas ini dan lalu tanyakan pada dirimu, Apa tujuanku hari ini?’ ataupun ‘Apa tujuan hidupku ini?’ dan Apa yang harus saya buat kedepannya?’. Jangan pernah kau biarkan hari, waktu dan kesempatanmu mengalir begitu saja tanpa anda ketahui apa sih tujuan anda menjalani hari-hari.


Ketika tujuanmu menyelesaikan pekerjaan kuliah, lakukanlah dengan kebahagian serta lakukan dengan gigih belajar. Dan jika tujuanmu untuk sukses maka, lakukanlah dengan rasa optimis bahwa kamu bisa sukses. Serta bertekad dan selalu berdoalah sehingga apa yang kau harapkan dan apa yang kamu lakukan hari ini bawasanya tidak akan sia-sia. Tetaplah Bersemangat, senyum dan optimislah  seakan tujuanmu akan tercapai pada suatu esok harinya.  


Friday, November 18, 2016

Formulir Online PMII Rayon PGMI/PIAUD 2017

Tags
Untuk memudahkan dan saling memahami satu sama lain, kami menyediakan sebuah formulir identitas yang nantinya bisa dijadikan data bagi kePMIIan khususnya Rayon PGMI. Mohon untuk mengisi dengan jujur, prioritaskan di minat bakat dan harapan untuk Rayon PGMI.

Silakan Klik Disini untuk mengisi formulir.


Thursday, November 17, 2016

Jadilah Diri Sendiri

Oleh: Devi Apriza (Kader)


Banyak orang berlomba-lomba merubah gaya hidupnya seperti orang lain. Jika kita menjadi orang lain, lantas orang lain akan jadi siapa? Jadilah diri sendiri yang lebih unik.

Masalah Sepele tapi Menawan

Oleh: Ahmad Mustaqim (Kader)


Banyak orang mengatakan, "Jangan bilang siapa-siapa, jaga rahasia ini", padahal dia sendiri baru saja memberi contoh kalau dirinya tak bisa menjaga rahasia.

#Renungkan

Follow up Kekoprian

Tags
Follow up (diskusi) kekoprian bareng sahabat Noer Lailiya di kampus 1 (bawah pohon area lapangan futsal).

"PMII dan Kopri itu bisa di ibaratkan seperti Ayah dan Ibu," begitu kata sahabat Noer selaku sekretaris Kopri komisariat Jurai Siwo Metro.

Follow up di Kantor Redaksi Simaknews.com

Tags
Follow up ini dilaksanakan guna memperingati "Hari Pahlawan", 10 November 2016.
Di isi materi oleh Sahabat Meilinda Anjarsari dan Sahabat Tendi Novianda.

Lengkapnya silakan klik disini.


Satu Keyakinanku, PMII

Oleh: Khoirul Anwar (Kader)



PMII merupakan sebuah organisasi kaderisasi yang berbasis ke Mahasiswaan yang dideklerasikan pada taggal 17 April 1960 di gedung Madrasyah Mualimin NU Wonogromo Surabaya. Didirikan oleh 13 mahasiswa NU dari berbagai daerah. PMII merupakan wadah kelompok mahasiswa tradisionalis dibeberapa perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Sebagai organisasi kemahasiswaan, posisi PMII merupakan wadah yang setrategis bagi kaderirasi NU di Indonesia. Sebagai organisasi pegerakan mahasiswa, PMII menjunjung tinggi nilai-nilai Islam (Ahlussun’nah Waljamaah) dan berasaskan pancasila. PMII juga bertekad tinggi membawa peradapan baru untuk agama dan bangsa Indonesia.

Pada saat kongres kedua di Yogyakarta di masa orde lama, PMII bertekad untuk selalu berpihak kepada amanah penderitaan rakyat yang kemudian di implementasikan dalam dokumen Yogyakarta. Selain itu, PMII juga mendukung terselenggaranya konferensi ASIA-AFRIKA yang berisi tentang pentingnya kerja sama internasional.
***

Awal saya ikut dengan PMII, saya tidak tahu apa itu PMII. Akhirnya motivasi saya ikut di PMII adalah karena banyak cewek-ceweknya yang menurut saya cantik. Saya ikut PMII juga karena di ajak teman saya (Ahmad Mustaqim), yang ternyata dia juga tak tahu apa itu PMII. Dulu saya beranggapan dengan ikut organisasi ini akan mengganggu aktivitas perkuliahan, tapi tetap saja saya bertekad untuk ikut MAPABA yang waktu itu dilakukan serentak semua prodi se-Jurai Siwo Metro. Dengan modal nekad, saya dan Taqim akhirnya berangkat ke MAPABA yang dilaksanakan selama 3 hari.

Saya dan Taqim kalau berangkat selalu telat, hehehe... Tapi saya mengikuti acara tersebut dengan baik hingga di baiat. Pembaiatan dilakukan ba’da solat subuh dihari ketiga, pembaiatan yang dilakukan tidaklah sesuai dengan rencana panitia karena ada masalah yang benar-benar tidak bisa dielakan (kesurupan massal).

Saya dan sahabat-sahabat lainya akhirnya merasa senang karena sudah melewati beberapa proses di MAPABA. Setelah membaiakan diri, kami resmi menjadi anggota PMII dan harus siap dengan tugas-tugas kedepan untuk membawa PMII menjadi organisasi yang disegani oleh banyak orang serta mengamalakan ilmunya sesuai dengan tekad PMII itu sendiri.

Ada banyak motivasi yang saya dapatkan dari beberapa sahabat yang pernah saya tanyakan, baik dari sahabat komisariat STAIN maupun sahabat PMII dari kampus lain. Saya diajarkan tentang bagaimana berorganisasi yang baik, bagaimana mengamalkan Islam Aswaja dan masih banyak lagi. Dari itu semualah saya berpikiran untuk mempunyai tekat besar dalam belajar di PMII agar nanti banyak ilmu yang bisa saya dapatkan dari PMII baik itu Aswaja, NDP, Antropologi kampus dan apapun tentang berorganisasi.

Belajar di PMII akhinya saya tahu, sejak berdirinya PMII ternyata sudah dipimpin oleh 16 ketua umum yaitu Mahbub Junaidi pada 1960-1967, Mohammad Zamroni 1967-1973 dan sahabat lainnya. Kemudian pada periode ini dipimpin oleh sahabat Aminudin Ma’ruf mulai tahun 2014-2016. Dibawah kepemimpinanya, Visi kepengurusan PB PMII adalah “Revitalisasi PMII sebagai Basis Kaderisasi Islam Ahlussunah Waljamaah.”

Harapan saya PMII khususnya rayon PGMI bisa menjadi organisasi yang patut diikuti, karena banyak sekali materi yang bisa dipelajari dan tidak akan kita dapatkan di kampus. Menjadi aktivis itu bukan hanya aktif di kampus saja, tetapi juga harus berorganisasi untuk membentengi ilmu kita. Kita akan menyesal nantinya jika dalam dunia kampus kita hanya duduk, diam, datang dan pulang saja ketika kuliah. Di PMII itu banyak ilmu, jika kita mau mencari dan belajar dengan sungguh-sungguh.

“Denganmu PMII pergerakanku ilmu dan bakti kuberikan adi dan makmur kuperjuangkan untukmu satu tanah airku untukmu satu keyakinaku.”

Wednesday, November 16, 2016

Tentang (Saya) PMII

Oleh: Erma Fitriana (Kader)


Belum lama ini saya menjadi seorang mahasiswi di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri, IAIN Metro. Di kampus, saya mengikuti organisasi kemahasiswaan yaitu PMII. Awal saya mengikuti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) hanyalah sekedar ikut-ikut saja, tapi kemudian saya merasa penasaran dan ingin tau lebih dalam lagi tentang PMII. Bergabungnya saya dengan PMII jelas memiliki tujuan, diantaranya:
  1. Ingin mempunyai jiwa yang optimis
  2. Bersikap kritis
  3. Ingin menumbuhkan rasa percaya diri 
  4. Ingin mempunyai kreatifitas dalam segi apapun dan
  5. Ingin menjadi mahasiswi yang Ulil al-bab
Di PMII itu ada kaderisasi rutinan, disebut follow up. Setelah saya mengikuti follow up yang kurang lebih 1 bulan, disitulah saya mulai tau bahwa sebenarnya PMII adalah organisasi yang mempunyai tujuan yang sangat baik yaitu terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, terampil, cerdas dan siap mengamalkan ilmu.

Tetapi mengapa selama 1 bulan ini pengkader dan kader-kader PMII rayon PGMI jarang sekali menghadiri follow up? Padahal saya sendiri ingin sekali tau siapa saja pengkader dan kader-kader PMII yang ada di rayon PGMI. Alhasil hanya beberapa saja yang saya tau karena hanya sedikit yang hadir di follow up.

Apa yang menjadi penyebab ketidakhadiran pengkader dan kader-kader PMII rayon PGMI? Bukankah setiap pribadi muslim bertanggung jawab untuk mengamalkan ilmunya, dalam hal ini senior yang mengajak saya pasti punya tanggung jawab tersebut.

Dalam suatu kaderisasi ada yang disebut kader dan ada yang disebut pengkader, kader mempunyai hak untuk mendapat ilmu atau pengetahuan dan pengkader berkewajiban mentransfer ilmu atau pengetahuan kepada kadernya. Bagi saya hubungan pengkader dengan kader selama ini terasa kurang, mungkin karena kurangnya kesadaran akan tanggung jawab mereka sebagai seorang pengkader yaitu mengamalkan ilmunya.

Harapan saya untuk kedepannya, pengkader dan kader-kader PMII khususnya rayon PGMI harus segera melakukan perubahan agar tujuan dari PMII mudah terwujud. Terimakasih, saya Erma Fitriana. 

Thursday, November 10, 2016

Mengenal Mahbub Djunaidi, Ketua Umum PB PMII 1960-1967 (Sang Pendekar Pena)

Mahbub Junaidi, Sosok kelahiran Jakarta 27 juli 1933 ini memang begitu gemar menulis, bahkan ia pernah berstatemen, “Saya akan menulis dan terus menulis hingga saya tak mampu lagi menulis.”


Ia adalah anak pertama dari 13 Saudara kandungnya. Ayahandanya  H. Djunaidi  adalah tokoh NU dan pernah jadi anggota DPR hasil Pemilu 1955. Keluarganya harus mengungsi ke Solo karena kondisi yang belum aman pada saat awal kemerdekaan. Di Solo, ia menempuh pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum. Di tempat itu Mahbub diperkenalkan tulisan-tulisan Mark Twain, Karl May, Sutan Takdir Alisjahbana, dan lain-lain. “Masa-masa itulah yang sangat mempengaruhi perkembangan hidup saya,” cerita Mahbub.

Saat Belanda menduduki Solo tahun 1948, Mahbub Junaidi dan keluarganya kembali ke Jakarta.  Di Jakarta ia kemudian melanjutkan pendidikannya, masuk ke SMA Budi Utomo. Di sekolah barunya bakat menulis yang dimilikinya semakin terasah. Ia sering menulis sajak, cerpen, dan esei. Tulisan-tulisannya banyak dimuat majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Roman dan Star Weekly. Bakatnya ini terus berlanjut hingga ia menjadi mahasiswa, organisatoris, kolumnis, sastrawan, jurnalis, agawaman, poltisi dan sebagainya. Ya, selain sebagai seorang penulis, sosok yang satu ini juga dikenal sebagai tokoh yang multitalenta.

Dalam hal tulis-menulis Mahbub temasuk sangat piawai pada masanya, misalnya beliau yang menerjemahkan buku 100 tokoh yang berpengaruh di dunia karangan Michael H. Hart. Pun, dalam menulis kolom, Mahbub sangat terkenal dengan bahasa satire dan bahasanya yang humoris. Bahkan, Bung Karno samapai terkesan dengan tulisan beliau, karena Mahbub mengatakan Pancasila lebih agung dari Declaration of Independence, sehingga Bung Karno sempat mengundang Mahbub ke Istana Bogor, dari situlah Mahbub Junaidi menjadi sangat dekat dengan Bung Karno, dan Mahbub sangat kagum dengan “sang penyambung lidah rakyat tersebut.”

Ajaran Bung Karno, memang cukup mempengaruhi nasionalisme Mahbub. Pada sebuah pertemuan wartawan di Vietnam, Mahbub menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi kendati ia cukup fasih berbahasa Inggris atau Prancis. Inilah sikap nasionalismenya. “Bahasa Prancis bukan bahasa elu, dan bahasa Inggris juga bukan bukan bahasa gua.

Salah satu ciri dari tulisan Mahbub adalah kepandaiannya dalam memasukkan unsur humor. Humor adalah cara dari Mahbub untuk mengajak seseorang masuk kedalam suatu masalah, karena salah satu kebiasaan dari orang Indonesia adalah suka tertawa, maka untuk mengkritik dengan cara yang enak adalah lewat humor. Sebagaimana yang pernah dikatakan Gus Dur, “dengan humor kita dapat sejenak melupakan kesulitan hidup.”

Sebagai kolumnis, tulisan Ketua Umum PB PMII Tiga Periode Ini kerap dimuat harian Kompas, Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Pelita, dan TEMPO. Kritik sosial yang tajam tanpa kehilangan humor adalah ciri khas tulisan Sang Pendekar Pena ini. Akibat tulisannya yang tajam, Ia pernah ditahan selama satu tahun di tahun 1978. Jeruji besi dan gelapnya penjara tak menghambat nalar menulisnya di dalam penjara ia menerjemahkan Road to Ramadhan, karya Heikal, dan menulis sebuah novel Maka Lakulah Sebuah Hotel. Jaya pada tahun 1975.

Ketua PMII Tiga Periode

Dalam kariernya sebagai aktivis mahasiswa, Mahbub Junaidi bersama sahabat-sahabatnya membentuk Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April 1960, dan pada saat itu juga Mahbub Junaidi terilih sebagai ketua umum. Jabatannya sebagai Ketua Umum PP.PMII diembannya selama tiga periode, yaitu periode 1960–1961, hasil Musyawarah Mahasiswa Nahdliyin pada saat PMII pertama kali didirikan di Surabaya Jawa Timur. Periode 1961-1963, Hasil Kongres I PMII di Tawangmangu Jawa Barat. Dan Periode 1963-1967, hasil Kongres PMII II di Kaliurang Yogjakarta.

Pada masa kepemimpinan sahabat Mahbub Junaidi inilah PMII secara politis menjadi sangat populer di dunia kemahasiswaan dan kepemudaan, sampai pada periode pertama sahabat Zamroni. Pernah ketika itu, sebagai ketua umum PMII dirinya menunjukkan tajinya, saat HMI hendak dibubarkan oleh Bung Karno, dikarenakan tokoh-tokoh Masyumi terlibat dalam pemberontakan PRRI PERMESTA di Sumatera Barat, Mahbub yang menjabat sebagai ketua PMII langsung berangkat ke Istana Bogor untuk berdialog langsung dengan Bung Karno, dan pemintaan Mahbub sangat tegas, yaitu “HMI jangan dibubarkan.” Dan akhirnya tuntutannya itu terkabul.

Saat menjadi aktivis mahasiswa, Mahbub juga ahli dalam membuat lagu, mars PMII dan mars Gerakan Pemuda Ansor juga ciptaan dari Mahbub Junaidi. Dari kariernya sebagai ketua umum PB PMII, membuat kaiernya melesat ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Sebagai jurnalis, penulis dan sastrawan, Mahbub telah meraih prestasi yang sangat baik. Tulisannya sebagai Pemred Duta Masyarakat telah menunjukkan benang merah dari gagasan dan pikirannya mengenai berbagai masalah yang dihadapi bangsa kita. Perjalanan panjang dalm organisasi di lingkungan NU dapat menjadi bukti dari pengabdiannya kepada masyarakat.

Kiprahnya sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dapat dari petunjuk dari pengabdiannya dalam mengembangkan kehidupan pers nasional. Tulisannya sebagai sastrawan telah menununjukkan keragaman kemampuan yang dimilikinya dengan meraih penghargaan sastra tingkat nasional. Kolom “Asal Usul” yang dimuat secara tetap di tiap hari minggu harian Kompas selama jangka waktu yang cukup lama menunjukkan kemampuan Mahbub dalam menulis dan daya pikat tulisannya terhadap masyarakat. Gaya tulisannya sekarang banyak ditiru oleh penulis Indonesia.

Mahbub Djunaidi adalah tokoh nasional yang bersahaja, seorang jenius yang berkarakter mengamati perkembangan hidup melalui tulisan-tulisannya, penggerak organisasi dan seniman politik yang dimiliki oleh NU dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sementara Mahbub Djunaidi meninggal dunia pada tahun 1995 di usia 62 tahun, usia yang masih cukup untuk beraktivitas dan berjuang.

Sumber: www.nu.or.id

Para Pahlawan Masa Kini

Oleh: Ahmad Mustaqim (Kader)

Jika dahulu pahlawan identik dengan perjuangannya yang pantang menyerah hingga titik darah penghabisan bahkan sampai gugur. Siapakah yang patut disebut pahlawan di era ini? Kita sering mendengar istilah guru sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa”. Jelas guru harus disebut sebagai pahlawan, sebab guru adalah profesi yang begitu mulia. Tak akan ada dokter tanpa ada guru, tak akan ada polisi tanpa ada guru, tak akan ada presiden tanpa ada guru, dan tak akan ada Soekarno yang hebat tanpa seorang guru HOS Tjokroaminoto. Lantas apakah hanya guru yang patut disebut “pahlawan”?

Setiap tanggal 10 November seluruh bangsa Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan. Hari yang diperingati untuk mengenang dan menghargai perjuangan bangsa Indonesia yang bertempur melawan penjajahan hingga titik darah penghabisan. Jika kita menengok sejarah, maka akan mengetahui perjuangan Pangeran Diponegoro, Bung Tomo, Jenderal Soedirman dan masih banyak lagi serta seluruh rakyat Indonesia yang ikut berjuang. Mereka itulah para pahlawan yang dengan gagah berani, pantang menyerah, berjuang memerdekakan bangsa dan negara hingga gugur sebagai kusuma bangsa.

Memang sudah sepatutnya mereka kita sebut pahlawan. Jasa-jasanya tak bisa dihitung. Dengan semangatnya yang berapi-api mereka berteriak “merdeka atau mati”, tak pernah peduli nyawa sebagai taruhan, yang penting Indonesia merdeka. Mereka berjuang melawan para “begundal” kolonialisme lewat diplomasi hingga beradu fisik (berperang) walau hanya bermodal bambu runcing.

Saat ini semua pasti sepakat mengatakan orang tua adalah pahlawan yang paling utama. Mereka berjuang, berkorban, dan bekerja tanpa mengenal lelah, memenuhi kehidupan keluarga hingga apapun akan dilakukan demi membahagiakan anak-anaknya agar masa depannya lebih baik. Begitu mulianya perjuangan orang tua, Rasulullah SAW pun mewajibkan ummatnya untuk menghargai mereka. Maka sudah selayaknya orang tua disebut pahlawan yang utama bagi kita.

Kemudian yang patut disebut pahlawan di era saat ini adalah para pejabat yang tertib, disiplin, jujur, dan yang melayani rakyatnya tanpa tergiur uang, serta tidak korupsi. Selalu menyejahterakan rakyat dan siap melayani sepenuh hati. Hatinya selalu dekat dengan rakyat tanpa sedikitpun pencitraan. Berani melawan arus yang tidak benar. Pejabat seperti ini mungkin tak populer, tapi hatinya selalu damai. Kepada merekalah nasib rakyat disandarkan.

Selanjutnya para petani dan nelayan. Setiap hari mereka bekerja keras, tak pernah menghiraukan panasnya terik matahari hingga derasnya hujan yang dirasakan tubuh. Ia terus semangat bekerja, tak peduli menghitung keuntungan bahkan rugi, tak pernah kapok walau kadang sering “nombok” pasca panen. Kadang mereka bertani hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup saja, untuk makan dan bayar hutang, tapi kenyataannya mereka juga mencukupi kebutuhan pangan negara. Atas jasa merekalah badan kita sehat walafiat.

Adalagi para TNI, dari Angkatan Darat, Laut, dan Udara yang dengan semangat perjuangan, yang gagah perkasa dan waspada terus menjaga kedaulatan NKRI. Tak pernah mengenal korupsi demi menjaga keutuhan NKRI. Mereka berpatroli, menjaga hingga perbatasan wilayah negara yang kadang tanpa fasilitas cukup dan di daerah yang rawan dengan serangan negara lain. Bahkan mereka rela, pergi jauh meningalkan keluarga demi pengabdiannya.

Pahlawan kita di zaman saat ini selanjutnya adalah para jurnalis yang dengan jujur menuliskan berita. Yang salah disalahkan dan yang benar dibenarkan. Para jurnalis yang tak tergoda dengan suapan uang, tak takut dengan ancaman dan gertakan dari pihak yang salah. Mereka menulis tentang kebenaran, menulis segala keluhan dan aspirasi rakyat. Merekalah para pahlawan yang selalu menyuarakan kebenaran, keadilan, demokrasi dan kesejahteraan.

Dokter dan petugas kesehatan juga patut disebut pahlawan. Dedikasi mereka yang tinggi demi menjaga kesehatan masyarakat, bahkan sampai di daerah pedalaman, pulau-pulau terpencil, hingga daerah yang tak pernah tersentuh program pembangunan. Mereka tak mengutamakan kepentingan pribadi, mereka tulus hati dengan satu cita-cita yakni rakyat harus sehat sejahtera. Mereka terus bahagia melayani dengan sepenuh hati.

Satu lagi yang wajib disebut pahlawan adalah polisi yang menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi, tak tergiur dengan korupsi, sogokan, serta penyelewangan tindakan demi keuntungan tinggi. Mereka menjaga keamanan masyarakat dan negara tanpa mengenal takut, membela yang benar dan menyalahkan yang salah meski keluarga sendiri yang bersalah. Mereka tak henti-hentinya memburu para perusak moral bangsa, seperti para penjual narkoba.

Secara singkatnya, pahlawan di era saat ini adalah mereka yang hidupnya didedikasikan penuh untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara. Hidupnya selalu lurus, jujur, dan membawa kedamaian, serta persatuan dan kesatuan. Pahlawan adalah mereka yang hidupnya selalu dalam kebenaran, kebaikan, dan selaras dengan kehendak Tuhan. Diri sendiri juga patut disebut pahlawan, sebab dalam diri manusia terdapat musuh yang sangat berbahaya dan wajib dikalahkan demi kemerdekaan jiwa, adalah hawa nafsu yang kadang menyulitkan pergerakan kita untuk hidup berdedikasi penuh dalam berbangsa dan bernegara.

Semoga Hari Pahlawan ini kita bisa merefleksikan dan meneladani para pahlawan bangsa dan negara dengan cara hidup menjadi warga negara yang baik, yaitu bersikap jujur, disiplin, dan bermanfaat. Selamat Hari Pahlawan. Tetap semangat dan jadilah bangsa yang besar dengan menghargai jasa pahlawan, baik pahlawan tempo dulu dan saat ini.
___

Tulisan ini terbit di portal berita Simaknews.com

Thursday, October 27, 2016

Memahami Sejarah Sumpah Pemuda

Tags
SOEMPAH PEMOEDA


_________________
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928
______________
Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 1928.

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)

Peserta :

Abdul Muthalib Sangadji
Purnama Wulan
Abdul Rachman
Raden Soeharto
Abu Hanifah
Raden Soekamso
Adnan Kapau Gani
Ramelan
Amir (Dienaren van Indie)
Saerun (Keng Po)
Anta Permana
Sahardjo
Anwari
Sarbini
Arnold Manonutu
Sarmidi Mangunsarkoro
Assaat
Sartono
Bahder Djohan
S.M. Kartosoewirjo
Dali
Setiawan
Darsa
Sigit (Indonesische Studieclub)
Dien Pantouw
Siti Sundari
Djuanda
Sjahpuddin Latif
Dr.Pijper
Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
Emma Puradiredja
Soejono Djoenoed Poeponegoro
Halim
R.M. Djoko Marsaid
Hamami
Soekamto
Jo Tumbuhan
Soekmono
Joesoepadi
Soekowati (Volksraad)
Jos Masdani
Soemanang
Kadir
Soemarto
Karto Menggolo
Soenario (PAPI & INPO)
Kasman Singodimedjo
Soerjadi
Koentjoro Poerbopranoto
Soewadji Prawirohardjo
Martakusuma
Soewirjo
Masmoen Rasid
Soeworo
Mohammad Ali Hanafiah
Suhara
Mohammad Nazif
Sujono (Volksraad)
Mohammad Roem
Sulaeman
Mohammad Tabrani
Suwarni
Mohammad Tamzil
Tjahija
Muhidin (Pasundan)
Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
Mukarno
Wilopo
Muwardi
Wage Rudolf Soepratman
Nona Tumbel
__________
Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu"Indonesia Raya" gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.

Wednesday, October 26, 2016

Struktur Kepengurusan Rayon PGMI 2014-2015

Data Kepengurusan Rayon PGMI
Masa Bakti 2014-2015



Ketua Rayon: Teddi Hilmawan
Wakil Ketua Rayon: Muhammad Muzaki

Sekretaris: Cici Luthvi Astuti
Wakil Sekretaris: Amelia

Bendahara: Indah Kumala Sari
Wakil Bendahara: _

Ketua 1 (Biro pengembangan dan pembinaan kader): Vio Niken Fitriani
Ketua 2 (Biro organisasi dan  hubungan alumni): Maulana Ibrahim
Ketua 3 (Biro dakwahkomunikasi dan pengembangan masyarakat): Dandi Tafli
Ketua 4 (Biro pengembangan dan pembinaan perempuan): Lusy Septa Liana

Semua data ini merupakan struktur kepengurusan rayon periode ke V

Pantun untuk PMII

Tags
Oleh: Khoirul Anwar (Kader)

Hujan-hujan minum kopi.
Kopi diminum ngemilnya roti.
PMII ada Anwar yang baik hati.
Selalu tersenyum setiap hari.

Pantun Jenaka: Main PES

Tags
Oleh: Ahmad Mustaqim (Kader)

Cuaca dingin malah minum es.
Makannya pakai ikan pepes.
Otak pusing karena UTS.
Santain saja sambil nge PES.

Pantun Romantis

Tags
Oleh: Khoirul Anwar (Kader)

Dipinggir jalan memakan bubur.
Bubur dimakan lauknya keripik.
Kemarin aku tak bisa tidur.
Teringat wajahmu yang sangat cantik.

Tuesday, October 25, 2016

Kata Bijak: Motivasi Menuju Kesuksesan

Oleh: Muhammad Afif Rifai (Warga)

Hidup itu bagaikan sebuah roda. Jika roda berputar setiap hari maka kamu pasti akan pernah berada dibawah dan juga di atas. Tugas kamu dalam hidup adalah trus membuat roda itu berputar melewati tanjakan.dengan begitu kamu akan tetap berkemungkinan mendapatkan hidup diatas yang semakin keatas.

Monday, October 24, 2016

Foto-foto Eksis Rayon PGMI Menyambut Hari Santri Nasional

Inilah foto eksis dari sahabat-sahabat warga, kader, senior, dan alumni saat menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober 2016 kemarin.

Kita menggunakan aplikasi web di twibbon.com, kemudian hasil fotonya di upload ke Instagram Rayon PGMI (@pmii_prpgmi).