Tuesday, October 31, 2017

Titik Nadi

Tags

Aku sudah membisu
Tak satu katapun mampu kusampaikan pada api
Apalagi untuk kutulis menjadi syair

Sajakku telah diblokir
Bait-baitku berkeliaran tanpa petunjuk
Muncul, sejenak...
Lalu pergi tanpa jejak

Hanya satu menjadi pengharapan
Nadi yang terus berjuang berdetak
Itupun tertindih...
Terinjak

Lalu kudengar sabda api
Berhentilah, sudahilah
Ia melambaikan tanda untuk kembali
Kembalilah...
Titik...

Titik Nadi.

___
Penulis: Abid Mustofa Abroziq, Bendahara Umum PC PMII Metro Lampung 2016-2017.

Saturday, October 28, 2017

Ketika Sumpah Pemuda Menjadi Sumpah Mahasiswa

Tags
Minggu, 28 Oktober 1928, 89 tahun yang lalu sumpah dari para pemuda untuk sebuah persatuan dan kesatuan di kumandangkan:

Sebagai pemuda maka harus memaknai text ini secara mendalam,
Sumpah Pemuda:
  1. Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah dara yang satu, tanah Indonesia.
  2. Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Lalu, ketika para pemuda menjadi seorang mahasiswa, maka renungkanlah ini,
Sumpah Mahasiswa:
  1. Kami Mahasiswa Mahasiswi Indonesia Bersumpah, bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.
  2. Kami Mahasiswa Mahasiswi Indonesia Bersumpah, berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan.
  3. Kami Mahasiswa Mahasiswi Indonesia Bersumpah, berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.

Salam Mahasiswa!!
Salam Pergerakan!!

___
By: Ahmad Mustaqim, Kader PMII Rayon PGMI Metro Lampung


Thursday, October 26, 2017

Kemurnian Cinta

Tags

Sebuah anugrah terindah dari sang maha cinta. Bagai ribuan warna yang menghiasi putihnya hati. Manusia itu tidak ada yg sempurna, maka sejatinya cinta itu bukan perkara menemukan seseorang yang sempurna.

Sebab, cinta itu adalah dua insan yang memang sama-sama tidak sempurna, tetapi memilih untuk saling menyempurnakan, saling memperbaiki kesalahan dan kekurangan satu sama lain serta saling setia menjaga ikatan yang terjalin.

Semakin lama suatu hubungan cinta, maka akan semakin jelas kekurangan dan kesalahannya. Janganlah kau melihat sisi buruknya, tapi lihatlah sisi baiknya, dan yang buruk diperbaiki bersama. Karena sesungguhnya itulah Kemurnian Cinta.[]

Penulis: Meta Kartika Sari, anggota PMII Rayon PGMI Metro Lampung.

Haruku Karenanya

Tags

Hari ini aku begitu terharu, bahkan hampir menangis. Bukan karena aku sosok yang cengeng, bukan pula sosok yang mudah untuk merasakan haru. Tapi entahlah, mungkin karena aku menggangap diriku ini seperti mereka, merasakan seperti apa yang mereka rasakan, hingga aku pun menjadi seperti mereka. “Mereka adalah aku dan aku adalah mereka”, barangkali kalimat itu yang sesuai.

Aku mengendarai sepeda motor tua milik bapakku melewati pusat kota, sebuah jantung ekonomi wilayah yang biasanya terlihat ramai, tapi kali ini begitu sepi. Pusat kota yang sepi, bagaikan kota mati padahal masih pagi (07.03 wib). Tak ada satupun penghuni. Kukelilingi pusat kota itu, pun hanya kutemukan satu lembar kertas, bertuliskan, “Pasar tutup, PKL sedang demo!”

Bergegas aku menuju ke sebuah tempat, tempat yang tak asing bagiku, bahkan bisa dikatakan rumah kedua untukku. Aku menuju sekretariat PC PMII Metro, sekitar lima menit perjalanan. Disana aku berkumpul bersama mereka, para mahasiswa yang tak biasa, para mahasiswa kaum pembela.

Puluhan mahasiswa berkumpul, berasal dari berbagai jurusan di kampusku, bahkan dari kampus tetanggaku juga. Sebagian dari mereka ada yang rela meninggalkan perkuliahan, ada yang alasan izin dan ada pula yang memang libur tak ada jadwal. Hari ini memang hari yang efektif untuk perkuliahan, hari Senin (23/10), hari yang selalu dibayangkan sebagai full day activity. Tapi inilah kami, hak kami untuk memilih harus berbuat apa.

Pagi ini kami adalah kaum pembela. Para mahasiswa yang akan belajar, belajar bersama para kaum pasar. Kami bergerak untuk membela, membela para pedagang kaki lima (PKL) yang tertindas. Mereka tertindas, sebab akan direlokasi dari tempat dagang biasanya, tempat yang sudah nyaman mereka tempati. Bahkan ada yang sudah dilarang dengan adanya surat larangan berdagang dari Dinas Perdagangan Kota (Nomor: 053/398/D.18.03/2017).

Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan mereka, “Kami ini pedagang kecil, rakyat miskin yang harus di bantu. Bukankah kemiskinan itu yang harusnya diberantas, tapi kenapa yang miskin seperti kami ini mau diberantas,” sesal mereka. “Jangankan pindah tempat diatas sana (sembari menunjuk lokasi tempat mereka akan dipindahkan), orang dagang pindah posisi saja bisa berpengaruh ke penghasilan. Sebagian dari kami sudah ada yang pindah ke atas sana dan hasilnya sangat jauh sekali.”

Kabarnya, tempat mereka berdagang saat ini akan diganti menjadi lahan parkir pasar kota. Sebab itu mereka harus pindah ke ruko atas dengan aturan membayar biaya sewa. Meski diberikan gratis sewa selama tiga bulan, mereka pun tetap menolak keras.

“Sudah dipastikan disana tak akan laku, sepi pembeli,” kata ketua Himpunan Pedagang Kaki Lima Metro.

Para pedagang kaki lima yang terhimpun dalam Himpunan Pedagang Kaki Lima Metro (HPKLM) ini sudah beraudiensi dengan pihak Pemerintah Kota (Pemkot), (19/10). Mereka meminta langsung kepada Walikota Metro agar bermurah hati mengizinkan PKL berdagang di tempat biasanya: di Jl Agus Salim, Jl Cut Nyak Dien, antara Kopindo dan Cendrawasih, antara Kopindo dan Metro Mega Mall, antara Metro Mega Mall dan Pasar Cendrawasih (lokasi ex kebakaran) dan sekitaran terminal kota serta Nuban Ria di malam hari.

Mereka juga meminta agar Walikota mengganti Kepala Dinas Perdagangan Kota Metro. Menurut mereka Kepala Dinas yang sekarang terlalu arogansi, tidak manusiawi karena menggusur tanpa solusi, tidak berpihak kepada pedagang kecil, terindikasi berpihak pada pengembang (pengusaha), dan merugikan PAD (Pendapatan Asli Daerah) Pemkot. Dari data rincian yang mereka buat dan dilihatkannya padaku, ada 2 miliyar kerugian yang bisa dicapai.

Satu hari dari audiensi para PKL itu, Walikota pun membalas. Balasannya tak banyak dan tak bertele-tele, mungkin hanya copy paste dari apa yang sudah dinyatakan oleh pihak PKL. Dalam bahasa yang mudah dipahami seluruh manusia, cukup satu kata, “Menolak”. Ya, Walikota menolak permintaan para PKL. Dan saat itu juga, mereka berkata, “Kita tuntut, kita harus demo. Kita lawan!”.

Itulah yang menggerakkan semua para puluhan mahasiswa ini, termasuk diriku. Mereka itu pahlawan, pahlawan yang memberikan sumbangan dana terbesar untuk pembangunan di kota ini. Mereka itu pejuang, para pejuang yang harus terus menghidupi keluarga. Merekalah para pedangan kecil yang perlu kami bela. Mereka tertindas, oleh aturan yang terkesan membela para pemodal (investor).

“Untuk apa pasar terlihat ramai, menghasilkan banyak uang, terlihat rapih, tapi hasilnya hanya masuk ke kantong-kantong investor dan pihak-pihak penguasa yang tak baik? Bukankah lebih baik dikuasai mereka saja, mereka para PKL yang hidupnya tak seenak para investor itu?” begitulah kata hatiku.

Waktu pada jam di tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 08.06 wib. “Siapkan amunisi, ayo berangkat sahabat!!! Salam Pergerakan!!,” ucap korlap. Dan kami pun berangkat.

Puluhan sepeda motor yang membawa bendera biru kuning bertulis PMII melaju menuju pasar kota Metro. Sebuah pusat kota yang sepi, sepi bagai kota mati, sunyi, tapi itu pagi tadi. Pusat kota yang tadi terlihat sepi, kini ramai, bagaikan lautan manusia. Satu komando, satu aksi. Mereka berbaris rapi, bersuara siap aksi.

Sungguh, inilah momen yang membuatku merasa haru, bahkan hampir menangis. Aku melihat seorang wanita tua seumuran seperti ibuku (51 tahun) mengenakan caping dan berpakaian seadanya. Ia berjalan membawa sebuah karton menuju keramaian. Karton itu bertulikan, “Kami bukan kambing, kami manusia.” Lalu kulihat sekeliling, begitu banyak ibu-bapak PKL yang harusnya mencari nafkah untuk keluarga, tapi rela datang ikut aksi menuntut haknya. Tak ada kata rugi menurutnya.

Kini pasar semakin ramai, ratusan manusia memenuhi area jalan terminal kota. Ku ambil kamera dalam kantong almamater biru kebanggaan ini. Satu, dua, tiga, sampai sepuluh detik kamera ini merekam video suasana pasar, tiba-tiba timbul satu pertanyaan, "Hanya kami disini? Dimana kalian para mahasiswa? Apakah kalian sedang sibuk, duduk santai diruangan mendengarkan pembacaan materi, menikmati wi-fi gratis, live sosial media, lalu kau menyebut itu belajar? Lain kali kemarilah, mari kita belajar bersama mereka, mereka yang memiliki solidaritas tinggi, para kaum kecil yang hari ini perlu kalian bela." (23/10). []

___
Penulis: Ahmad Mustaqim, Kader PMII Rayon PGMI Metro

Wednesday, October 25, 2017

Cinta

Tags

Takkan habis diungkap dalam hamparan kata
Takkan cukup ditulis dengan lautan tinta
Karena didalamnya tersimpan cerita
Antara aku, kau dan sang pencipta.

Sungguh aku hanyalah manusia biasa
Tumbuh karena cinta dan besarpun karena cinta
Aku tak bisa berdusta
Ketika cinta hadirkan rasa.

Kata demi kata terangkai tanpa sengaja
Syair pun mulai berperan didalamnya
Membumbu indah menjadi susunan kalimat.

Kala hati mulai terpikat, bait-bait doa terpanjat syahdu.
Aku berkata dalam bisu.
Aku tak tahu, inikah sesungguhnya rindu?

Degub hati mulai menderu haru
Dan sungguh aku hanyalah manusia biasa
Manusiawi jika ku harap cinta, tentu teriring ridho dan doa
Jika memang cintaku mendamba syurga.

____
Penulis: Meta Kartika Sari, anggota PMII Rayon PGMI.

Cinta Dalam Diam (2)

Tags

"Mungkinkah aku dapat merubah warna si Mawar Putih?" renung si Dara. "Tapi aku tak mau melihat mawar putih sedih."

Si Dara bertanya kepada sang Mawar, “Wahai Mawar Putih apakah kau akan bahagia setelah kelopakmu berubah warna menjadi merah seperti yang kau bilang?”

"Iya, aku sangat bahagia. Bahagiaaa sekali," ucap si Mawar Putih.

"Apakah kau yakin Mawar?"

"Iya, aku yakin sekali karena dengan berubahnya warna, hidupku akan lebih  berwarna."

Si Dara pun pergi mininggalkan si Mawar tanpa mengucapkan pamit seperti biasanya. Sesampainya di sarang, ia berfikir keras, apa yang harus dilakukan untuk merubah warna si Mawar?

"Berpikirlah, ayo Dara, kau pasti bisa membuat Mawar terenyum," ungkapnya pada diri sendiri. Dan kata-kata itu terus ia ucapkan berulang kali.

"Aku hanya memiliki dua sayap selama ini, bagaimana bisa aku merubahnya?" ia tertunduk dan bingung.

“Ahh, aku punya ide. Pasti kau akan senang Mawar," ucapnya bahagia menemukan solusi.

Sebelum azzan subuh berkumandang burung Dara datang menghampiri si Mawar Putih yang sedang terlelap tidur. Hati burung dara berkata, “Semoga kau selalu tersenyum sekarang wahai Mawar Putih, seperti ucapmu, hidupkmu kan selalu berwarna setelah kau mempunyai warna.”

Tak berfikir panjang lagi si Dara pun memotong sayapnya dan meneteskan cucuran darahnya mengenai si Mawar Putih hingga ia pun lelah kehabisan darah. Lalu si Dara pergi meninggalkan Mawar putih sebelum terbangun.

Sinar matahari yang indah memancarkan cahayanya ke Mawar Putih.

"Uhh, ternyata sudah siang," ucap Mawar Putih. "Bukannya semalam hujan ya?" Mawar Putih mengira cucuran darah si Dara itu sebagai hujan.

"Aku berubah warna?"  ucapnya heran. Aku benar benar berubah warna? Pasti burung Dara kaget melihat warna kelopakku yang baru".

Si Mawar menunggu Dara dengan perasaan gembiranya, tapi Dara tak kunjung datang hingga sang matahari akan tenggelam.

"Dara kau dimana? Kau harus lihat aku memiliki warna sekarang, kau pasti akan tertarik melihatku yang sekarang," ucap Mawar Putih.

"Tak seperti biasanya kau tak datang hari ini, apa kau sedang sibuk? Mungkin kau sibuk, baiklah aku berbagi kebahagianku denganmu besok saja".

Keesokan harinya si mawar tetap menunggu  dan terus menunggu. "Kau dimana wahai Dara Putih, apa kau lupa sekarang denganku? Kau benar-benar lupa," Mawar pun menangis.

"Buat apa aku memiliki warna tetapi kau tak ada disini, Dara aku merindukan hadirmu saat ini."

Barulah sekarang Mawar Putih yang menjadi Merah sadar, bahwa Merah yang melekat di kelopaknya itu adalah darah si Dara. "Aku sangat rindu akan hadirmu dara, tidak dengan warna merahku yang sekarang, aku hanya ingin berkata aku rindu kau dara kembalilah dara." []

Penulis: Winda Lestari, anggota PMII Rayon PGMI.

Tuesday, October 24, 2017

Cinta Dalam Diam

Tags
Aku tau mencintaimu tak semudah yang kubayangkan. Aku tau mencintaimu itu seperti aku mencintai hal yang takkan kumiliki. Ya, benar, aku hanya berkata dalam diam untuk mengungkapkannya.

Walaupun hanya akan melukai hati dan menyesakkan pikiran saja, tapi mencintaimu itu membuatku bahagia, bahagia mengingat semua hal dan pengorbananmu.

Aku hanyalah pecundang, pecundang yang tak berani mengungkapkan secara lisan. Hanya dalam diam, sungguh aku mencintaimu. Cinta yang dengan sendirinya bersemi di dalam hati.

Terkadang aku bingung kenapa semuanya itu datang, jika hanya menumbuhkan rasa sakit yang tiada terkira. Mungkin itu semua caranya untuk menguji, benarkah cinta itu datang akan karenanya atau hanya sekedar cinta-cinta yang datang akan rayuan setan.

Aku sangat ingat cerita yang kau kirimkan untukku. Ya, benar, cerita tentang si Burung Dara dan Mawar Putih.

Sebenarnya aku tak sanggup untuk mengutarakan apa isinya. Tapi aku ingin memberi tahu kalian semua. Baiklah, aku akan bercerita:

Suatu hari seperti biasa si Burung Dara putih terbang dengan amat gembiranya kesana kemari untuk menghampiri si Mawar Putih yang sedang kuncup.

Setiap hari tak lupa si Burung Dara itu menyempatkan dirinya untuk melihat si Mawar Putih, hanya untuk memastikan kapan dia akan mekar.

Dan pada hari itu saatnya telah tiba untuk si Mawar Putih memancarkan akan indahnya kelopak-kelopaknya. Si Dara Putih pun bergegas untuk segera melihat cantiknya si Mawar Putih.

Tapi tak disangka-sangka si Mawar Putih malah sedih, sedih karena memiliki warna putih bukan merah. Lalu Burung Dara pun berkata, "Kau mengapa bersedih wahai Mawar Putih yang cantik?" ucap si Burung Dara.

"Apa kau bilang Dara? Aku cantik?"

"Iya benar kamu catik wahai Mawar Putih. Aku sangat tersepona melihat akan kecantikanmu. Lalu apa sebenarnya yang membuatmu bersedih wahai Mawar, bukankah kau sekarang terlihat sempurna?"

"Tidak, aku tidak suka dengan warna kelopakku yang putih. Aku merasa tak memiliki warna. Aku tak punya daya tarik seperti bunga-bunga yang lainnya."

"Lantas apa yang kau inginkan sekarang wahai Mawar Putih?"

"Aku hanya ingin kelopakku ini berubah warna menjadi merah. Itu saja."

Mungkin...

To be continued....

___
Penulis: Winda Lestari, anggota PMII Rayon PGMI.