Wednesday, October 25, 2017

Cinta Dalam Diam (2)

Tags


"Mungkinkah aku dapat merubah warna si Mawar Putih?" renung si Dara. "Tapi aku tak mau melihat mawar putih sedih."

Si Dara bertanya kepada sang Mawar, “Wahai Mawar Putih apakah kau akan bahagia setelah kelopakmu berubah warna menjadi merah seperti yang kau bilang?”

"Iya, aku sangat bahagia. Bahagiaaa sekali," ucap si Mawar Putih.

"Apakah kau yakin Mawar?"

"Iya, aku yakin sekali karena dengan berubahnya warna, hidupku akan lebih  berwarna."

Si Dara pun pergi mininggalkan si Mawar tanpa mengucapkan pamit seperti biasanya. Sesampainya di sarang, ia berfikir keras, apa yang harus dilakukan untuk merubah warna si Mawar?

"Berpikirlah, ayo Dara, kau pasti bisa membuat Mawar terenyum," ungkapnya pada diri sendiri. Dan kata-kata itu terus ia ucapkan berulang kali.

"Aku hanya memiliki dua sayap selama ini, bagaimana bisa aku merubahnya?" ia tertunduk dan bingung.

“Ahh, aku punya ide. Pasti kau akan senang Mawar," ucapnya bahagia menemukan solusi.

Sebelum azzan subuh berkumandang burung Dara datang menghampiri si Mawar Putih yang sedang terlelap tidur. Hati burung dara berkata, “Semoga kau selalu tersenyum sekarang wahai Mawar Putih, seperti ucapmu, hidupkmu kan selalu berwarna setelah kau mempunyai warna.”

Tak berfikir panjang lagi si Dara pun memotong sayapnya dan meneteskan cucuran darahnya mengenai si Mawar Putih hingga ia pun lelah kehabisan darah. Lalu si Dara pergi meninggalkan Mawar putih sebelum terbangun.

Sinar matahari yang indah memancarkan cahayanya ke Mawar Putih.

"Uhh, ternyata sudah siang," ucap Mawar Putih. "Bukannya semalam hujan ya?" Mawar Putih mengira cucuran darah si Dara itu sebagai hujan.

"Aku berubah warna?"  ucapnya heran. Aku benar benar berubah warna? Pasti burung Dara kaget melihat warna kelopakku yang baru".

Si Mawar menunggu Dara dengan perasaan gembiranya, tapi Dara tak kunjung datang hingga sang matahari akan tenggelam.

"Dara kau dimana? Kau harus lihat aku memiliki warna sekarang, kau pasti akan tertarik melihatku yang sekarang," ucap Mawar Putih.

"Tak seperti biasanya kau tak datang hari ini, apa kau sedang sibuk? Mungkin kau sibuk, baiklah aku berbagi kebahagianku denganmu besok saja".

Keesokan harinya si mawar tetap menunggu  dan terus menunggu. "Kau dimana wahai Dara Putih, apa kau lupa sekarang denganku? Kau benar-benar lupa," Mawar pun menangis.

"Buat apa aku memiliki warna tetapi kau tak ada disini, Dara aku merindukan hadirmu saat ini."

Barulah sekarang Mawar Putih yang menjadi Merah sadar, bahwa Merah yang melekat di kelopaknya itu adalah darah si Dara. "Aku sangat rindu akan hadirmu dara, tidak dengan warna merahku yang sekarang, aku hanya ingin berkata aku rindu kau dara kembalilah dara." []

Penulis: Winda Lestari, anggota PMII Rayon PGMI.


EmoticonEmoticon