Thursday, October 27, 2016

Memahami Sejarah Sumpah Pemuda

Tags
SOEMPAH PEMOEDA


_________________
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928
______________
Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 1928.

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)

Peserta :

Abdul Muthalib Sangadji
Purnama Wulan
Abdul Rachman
Raden Soeharto
Abu Hanifah
Raden Soekamso
Adnan Kapau Gani
Ramelan
Amir (Dienaren van Indie)
Saerun (Keng Po)
Anta Permana
Sahardjo
Anwari
Sarbini
Arnold Manonutu
Sarmidi Mangunsarkoro
Assaat
Sartono
Bahder Djohan
S.M. Kartosoewirjo
Dali
Setiawan
Darsa
Sigit (Indonesische Studieclub)
Dien Pantouw
Siti Sundari
Djuanda
Sjahpuddin Latif
Dr.Pijper
Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
Emma Puradiredja
Soejono Djoenoed Poeponegoro
Halim
R.M. Djoko Marsaid
Hamami
Soekamto
Jo Tumbuhan
Soekmono
Joesoepadi
Soekowati (Volksraad)
Jos Masdani
Soemanang
Kadir
Soemarto
Karto Menggolo
Soenario (PAPI & INPO)
Kasman Singodimedjo
Soerjadi
Koentjoro Poerbopranoto
Soewadji Prawirohardjo
Martakusuma
Soewirjo
Masmoen Rasid
Soeworo
Mohammad Ali Hanafiah
Suhara
Mohammad Nazif
Sujono (Volksraad)
Mohammad Roem
Sulaeman
Mohammad Tabrani
Suwarni
Mohammad Tamzil
Tjahija
Muhidin (Pasundan)
Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
Mukarno
Wilopo
Muwardi
Wage Rudolf Soepratman
Nona Tumbel
__________
Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu"Indonesia Raya" gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.

Wednesday, October 26, 2016

Struktur Kepengurusan Rayon PGMI 2014-2015

Data Kepengurusan Rayon PGMI
Masa Bakti 2014-2015



Ketua Rayon: Teddi Hilmawan
Wakil Ketua Rayon: Muhammad Muzaki

Sekretaris: Cici Luthvi Astuti
Wakil Sekretaris: Amelia

Bendahara: Indah Kumala Sari
Wakil Bendahara: _

Ketua 1 (Biro pengembangan dan pembinaan kader): Vio Niken Fitriani
Ketua 2 (Biro organisasi dan  hubungan alumni): Maulana Ibrahim
Ketua 3 (Biro dakwahkomunikasi dan pengembangan masyarakat): Dandi Tafli
Ketua 4 (Biro pengembangan dan pembinaan perempuan): Lusy Septa Liana

Semua data ini merupakan struktur kepengurusan rayon periode ke V

Pantun untuk PMII

Tags
Oleh: Khoirul Anwar (Kader)

Hujan-hujan minum kopi.
Kopi diminum ngemilnya roti.
PMII ada Anwar yang baik hati.
Selalu tersenyum setiap hari.

Pantun Jenaka: Main PES

Tags
Oleh: Ahmad Mustaqim (Kader)

Cuaca dingin malah minum es.
Makannya pakai ikan pepes.
Otak pusing karena UTS.
Santain saja sambil nge PES.

Pantun Romantis

Tags
Oleh: Khoirul Anwar (Kader)

Dipinggir jalan memakan bubur.
Bubur dimakan lauknya keripik.
Kemarin aku tak bisa tidur.
Teringat wajahmu yang sangat cantik.

Tuesday, October 25, 2016

Kata Bijak: Motivasi Menuju Kesuksesan

Oleh: Muhammad Afif Rifai (Warga)

Hidup itu bagaikan sebuah roda. Jika roda berputar setiap hari maka kamu pasti akan pernah berada dibawah dan juga di atas. Tugas kamu dalam hidup adalah trus membuat roda itu berputar melewati tanjakan.dengan begitu kamu akan tetap berkemungkinan mendapatkan hidup diatas yang semakin keatas.

Monday, October 24, 2016

Foto-foto Eksis Rayon PGMI Menyambut Hari Santri Nasional

Inilah foto eksis dari sahabat-sahabat warga, kader, senior, dan alumni saat menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober 2016 kemarin.

Kita menggunakan aplikasi web di twibbon.com, kemudian hasil fotonya di upload ke Instagram Rayon PGMI (@pmii_prpgmi).

Struktur Kepengurusan Rayon PGMI 2011-2012

Data Kepungurusan Rayon
Masa Bakti 2011-2012 


Ketua Rayon: Meilinda Anjarsari
Wakil Ketua Rayon: Ahmad Agus Salim

Sekretaris: Fitri Ayu Fidyaningsih
Wakil Sekretaris: _

Bendahara: Nuriyatul Fitriyah
Wakil Bendahara: _

Ketua 1 (Biro pengembangan dan pembinaan kader): Zulva Istifazah
Ketua 2 (Biro organisasi dan hubungan alumni): Nurul Aisyah
Ketua 3 (Biro dakwahkomunikasi dan pengembangan masyarakat): Iffa Dian Santika
Ketua 4 (Biro pengembangan dan pembinaan perempuan): Elmawati

Semua data ini merupakan struktur kepengurusan rayon periode ke III 

Saturday, October 22, 2016

Mencontoh Iblis

Oleh: Ahmad Mustaqim (Kader)

Iblis boleh saja dicontoh, asalkan bukan kebiadabannya, melainkan sikap kesungguhan dan tekad kuatnya yang harus dicontoh. Bahkan iblis bisa dikatakan bersikap pantang menyerah. Kalau saja iblis bisa sehebat itu, harusnya manusia jauh lebih bisa.

Ohh iya, iblis pun punya banyak siasat hebat dalam mencelakakan manusia. Salah satunya begini, "Bro.., kamu mau masuk surga? Mending ikut gue aja bro. Gue loh, alumni Surga."
___
Yaa Rabb jauhkan kami dari godaan setan yang terkutuk. Aamiin

Rayon PGMI Meriahkan Hari Santri dengan Sosmed

Tags
Hari Santri Nasional jatuh pada tanggal 22 Oktober. Jadi, tepat pada hari ini adalah peringatannya, yaitu  Sabtu, 22 Oktober 2016 dan peringatan kali ini adalah yang kedua sejak ditetapkannya pada tahun 2015.

Berhubung Rayon tak mengadakan kegiatan, dikarenakan kesibukan yang tak bisa di hindari. Maka inisiatif saya untuk memeriahkan hari Santri tersebut yaitu dengan foto ucapat selamat yang tersedia di link ini.

Caranya, setiap kader, warga bahkan alumni akan menggunakan foto profil FB/Twitter untuk membuatnya. Lalu foto yang sudah jadi, di posting ke akun Facebook, Twitter, dan Instagram Rayon PGMI.

Penulis: (Ahmad Mustaqim, Kader)

Friday, October 21, 2016

Struktur Kepengurusan Rayon PGMI 2015-2016

Data Kepengurusan Rayon PGMI
Masa Bakti 2015-2016

Thursday, October 20, 2016

Follow up Bersama (Rayon PGMI dan Rayon PAI)

Kamis, 20 Oktober 2016 Rayon PGMI mengadakan follow up rutin pada pukul 13.00 WIB. Follow up kali ini membahas tentang Ke-PMII-an dan Dasar Pergerakan dari PMII.

Follow up ini dihadiri oleh masing-masing ketua Rayon dan juga Ketua 1 Komisariat Jurai Siwo Metro (Riki Ardianto).

Follow up bersama seperti ini sejatinya lebih baik. Karena sisi positifnya adalah saling mengenal satu sama lain dengan mudah, yakni dalam satu forum. Semoga kebersamaan seperti ini terus dilakukan. (PR- Qim).
___
PMII Metro
Rayon PGMI
Rayon PAI
Komisariat Jurai Siwo Metro

Tuesday, October 18, 2016

Makna Lambang PMII

Tags
Lambang PMII diciptakan oleh H. Said Budairy. Dan Lambang tersebut memiliki makna sebagai berikut :

Bentuk
Perisai berarti ketahanan dan keampuhan mahasiswa islam terhadap berbagai tantangan dan pengaruh dari luar.
Bintang adalah perlambang ketinggian dan semangat cita-cita yang selalu memancar.
5 (lima) bintang sebelah atas, menggambarkan Rasulullah dengan empat sahabat terkemuka (Khulafa’ur Rasyidin)
4 (empat) bintang sebelah bawah menggambarkan empat madzhab yang berhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah.
9 (sembilan) bintang secara keseluruhan dapat berarti ganda, yaitu:
Rasulullah dengan empat orang sahabatnya serta empat imam madzhab ASWAJA itu laksana bintang yang selalu bersinar cemerlang, mempunyai kedudukan tinggi dan penerang umat manusia.
Sembilan bintang juga menggambarkan sembilan orang pemuka penyebar Agama Islam di Indonesia yang disebut Wali Songo.

Warna
Biru, sebagaimana tulisan PMII, berarti kedalaman ilmu pengetahuan yang harus dimiliki dan digali oleh warga pergerakan, biru juga menggambarkan lautan Indonesia yang mengelilingi kepulauan Indonesia dan merupakan kesatuan wawasan nusantara.
Biru muda, sebagaimana dasar perisai sebelah bawah berarti ketinggian ilmu, budi pekerti dan taqwa.
Kuning, sebagaimana perisai sebelah atas, berarti identitas mahasiswa yang menjadi sifat dasar pergerakan, lambang kebesaran dan semangat yang selalu menyala serta penuh harapan menyongsong masa depan.
Dekalarasi Format Profil PMII yang dicetuskan pada Kongres X tahun 1991 merupakan kristalisasi dari tujuan pergerakan sebagaimana tercantum dalam AD/ART yaitu: “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”.

#Logo #Lambang #PMII

Sunday, October 16, 2016

Komisariat Jurai Siwo Metro Adakan Follow up Akbar

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Jurai Siwo Metro mengadakan sebuah agenda kaderisasi atau Follow up di Rusunawa Iringmulyo Metro (16/10). Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 09.30 - 12.30 WIB.

"Follow up, merupakan forum pengayaan wawasan keterampilan anggota baik warga atau kader. Follow up biasa diarahkan pada studi-studi fakultatif dan diskusi sebagai upaya pengembangan diri kader pergerakan," tutur Ahmad Mustaqim selaku Kader PMII Metro.

"Follow up kali ini mengambil materi Antropologi Kampus yang sekaligus akan disosialiasikan tentang PEMIRA serta strategi dalam menghadapinya," tutur Tri Yunita Sari (Ketua Kopri).

Dalam kesempatan yang sama Riki Ardianto selaku Ketua 1 Komisariat mengungkapkan, bahwa Follow up kali ini juga sebagai ajang kumpul bersama/ukhuwah islamiyah. Supaya semua saling mengenal, dan lebih penting lagi mengenal secara struktural.

Follow up sebagai bentuk pengkaderan rutin dari PMII biasanya diisi dengan materi-materi yang menguatkan pemahaman mulai dari materi MAPABA atau PKD. Tapi, karena PMII adalah organisasi kaderisasi, maka segala agenda yang meningkatkan kualitas dan mutu setiap kader disebut dengan follow up wajib.

Penulis: Ahmad Mustaqim (Kader)

Eksis Pasca Follow up Akbar Komisariat

Follup akbar yang dilaksanakan oleh Komisariat di Rusunawa Metro selama kurang lebih dua jam rasanya membuat kami sedikit lelah.

Alih-alih mau pulang, ehh.., malah ada yang mengajak foto. Kami foto bersama, ada ketua Kopri, ketua Rayon, warga baru dan para kader. Kami semua adalah PGMI.
___
*Sebagian kader dan warga sudah pada pulang. 

Saturday, October 15, 2016

Menulislah!

Oleh: Ahmad Mustaqim (Kader)

Sering saya mengatakan kepada sahabat-sahabat saya untuk berani menulis. Menuliskan apapun yang dipikirkan. Ada yang bilang, "Nggak bisa menulis", "Belum terbiasa", "Susah rasanya", "Sering mandeg idenya", dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Padahal menulis itu penting dan banyak manfaatnya. Sebagai manusia tentu kita bukanlah makhluk yang super dalam mengingat, maka dengan menulis sama halnya kita menyimpan karya yang nantinya bisa dibuka kembali untuk diingat.

Menulis juga melatih kemampuan berpikir, karena saat menulis kita pasti membutuhkan pikiran yang stabil. Dan yang lebih hebat lagi, seseorang yang menulis namanya akan terkenang sepanjang masa, apalagi di zaman informasi seperti ini.

Ada begitu banyak media online dan cetak yang siap menerima berbagai karya tulis, atau kita bisa juga dengan membuat blog untuk menampung tulisan pribadi. Maka, sudah seharusnya kita memanfaatkan ketersediaan itu.

Ketika tulisan kita sudah terposting di media baik cetak maupun online, maka nama kita akan menjadi sejarah untuk diingat. Lihatlah 5 atau bahkan 10 tahun kedepan nanti, tulisan itu menjadi saksi bahwa kita ada di dunia ini.

Bahkan manfaat menulis yang paling hebat lagi adalah amalan jariyahnya. Saat memosting atau menyebarkan tulisan yang bermanfaat, maka amal jariyah tentu kita dapatkan.

Mari menulis, mulai dari yang mudah tapi bermanfaat. Menulis itu gampang, tinggal kitanya "Mau atau Tidak". Semua itu proses pembelajaran dan semua itu bisa dilakukan karena biasa. Jadi, biasakanlah menulis.

Menulis itu mudah, sebab Menulis adalah seni mengulang-ulang tanpa disadari orang.

Struktur Kepengurusan Rayon PGMI 2016-2017

Data Kepengurusan Rayon PGMI
Masa Bakti 2016-2017 


Ketua Rayon: Bayu Sugara
Wakil Ketua Rayon: Arini Kartika

Sekretaris: Novian Shinta Kurnia
Wakil Sekretaris: Siti Isnaini

Bendahara: Rohfinatun
Wakil Bendahara: Wuri Handayani

Ketua 1 (Biro pengembangan dan pembinaan kader): M. Iman Saridin
Ketua 2 (Biro organisasi dan  hubungan alumni): Anisa Riski
Ketua 3 (Biro dakwah, komunikasi dan pengembangan masyarakat): M. Fatoni
Ketua 4 (Biro pengembangan dan pembinaan perempuan): Miftakhul Munawaroh

Semua data ini merupakan struktur kepengurusan rayon periode ke VII

Kekuatan Pikiran

Oleh: Ahmad Mustaqim (Kader)

"Tugas kita sebagai manusia adalah memelihara pikiran-pikiran yang kita inginkan, memperjelas apa yang kita inginkan di dalam benak, dari situ kita mulai membangun salah satu hukum terbesar di Semesta, dan itulah 'Law of Attraction'. Anda tidak hanya menjadi apa yang paling Anda pikirkan, tetapi Anda juga meraih apa yang paling Anda pikirkan." (John Assaraf)

SATU pesan yang membukakan pikiran saya tentang hukum semesta. Pesan ini saya dapatkan dari buku The Secret karya Rhonda Bryne. Sebuah buku yang mengupas tentang kekuatan pikiran. Itulah Law of Attraction—Hukum tarik menarik.

Jika Anda membaca buku ini, saya jamin bakal bosan. Apalagi kalau rasa penasaran Anda hanya sedikit. Buku ini bukanlah novel atau story yang menarik, hanya sekumpulan ungkapan tokoh dan sedikit penjelasan.

Law of Attraction (LOA), saya mengenal istilah ini sejak kelas tiga SMA. LOA adalah kekuatan pikiran kita, dengan maksud apa saja yang kita pikirkan sejatinya bisa kita dapatkan. Misalnya, Anda menginginkan smartphone baru, maka dengan LOA ini, Anda akan mendapatkan smartphone itu. Simpelnya, apapun bisa Anda dapatkan dengan LOA.

Menurut hukum ini, pikiran kita bagaikan magnet. Ketika kita memikirkan yang positif (misalnya, ingin smartphone baru) maka energi positif lainnya akan tertarik oleh pikiran kita, dengan begitu jalan untuk mendapatkan smartphone akan terasa mudah, dan akhirnya kita mendapatkan apa yang diinginkan.

Dulu, saking percayanya dengan hukum ini, saya menggunakannya untuk masuk di perguruan tinggi yang diharapkan. Selalu saya memikirkan perguruan tinggi itu, sebelum dan sesudah tidur. Tapi, ternyata tak berguna, saya gagal lulus.

Setelah saya baca kembali. Ternyata saya mengetahui kesalahan saya, hanya kurang memahaminya saja.

Jadi memang benar, pikiran kita adalah magnet. Misalnya lagi, ketika kita memikirkan sesuatu dengan rumit maka energi (rumit-rumit yang lain) akan tertarik dan berkumpul pada pikiran kita, lalu terjadilah tumpukan kerumitan dalam pikiran (coba pikirkan saat Anda kerumitan tugas kuliah), akhirnya kita akan terus berkeluh kesah.

Apakah hanya dengan memikirkannya saja kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan? Yang jelas, konsistensi kita dulu yang lebih utama dipikirkan. Ketika kita memikirkan untuk menjadi Profesor, kita akan memancarkan sebuah energi (keinginan), kemudian energi itu menarik energi lainnya dan berkumpul, hingga nantinya akan memberi semangat pada kita untuk menjadi profesor.

Maka yang terjadi, kita akan terus menjalani apapun rintangan yang dihadapi dengan semangat, sebab pikiran kita yakin pasti bisa menjadi Profesor.
___
Mau baca bukunya tapi belum punya? Silakan komentar dibawah dan tinggalkan CP. Atau hubungi langsung saja ke Saya.


Friday, October 14, 2016

Pemimpin non Muslim? (Pikirkan)

Tags
Oleh: Teddi Hilmawan (Senior, Ketua Rayon 2014-2015)

Alasan tidak boleh memilih pemimpin selain orang islam (bagi yang beragama islam) karena ditakutkan gaya memimipin tidak berdasarkan syariat.

Apalagi berdalih jika masih ada yang muslim maka lebih baik say no yang non muslim.
Tapi, bukankan saat ini prilaku para pemimpin yang notabene beragama islam tindakanya banyak yang amoral jika konteksnya semua orang muslim sudah dipastikan memiliki budi pekerti yang islami oke saja.

Dan apakah salah ketika orang non muslim malah dirsa mampu dan tindakanya islami dipilih jadi pemimpin?


Aku Bisa

Oleh: Khoirul Anwar (Kader)

Terkadang hidup ini banyak suatu masalah dalam mimpi yang tidak kita inginkan, namun seiring adanya waktu yang tidak seorang pun mengetahui masalah itu pasti akan datang pada masanya yang mana masalah itu yang tidak kita inginkan, ketika didalam diri kita tanamkan suatu percaya diri, berani dan tidak mengenal putus asa aku yakin masalah itu akan terlewati dengan gemilangnya mentari dan harumnya bunga, serta lembutnya salju.

Dan kita mau mengatakan dan menanamkan  dalam diri anda hari ini adalah hariku, hidup ini adalah hidupku, aku punya mimpi, aku punya tujuan, tidak seorangpun yang bisa membatasi mimpiku dan katakan aku bisa.

Sukses adalah keinginan namun ketika keinginan itu tidak didasari rasa percaya akan terhempas bagaikan angin yang bisa kita rasakan namun tak bisa kita lihat wujud angin itu.

*Sekedar inspirasi diri*


Tuesday, October 11, 2016

Mengenal M. Zamroni, Ketua Umum PB PMII 1967-1973

Di awal kebangkitan orde baru, siapa yang tidak mengenal nama Mohammad Zamroni. Nama mencuat sejak tahun 1965 hingga 15-20 tahun kemudian dalam kancah perpolitikan Indonesia. Namun,kemudian tiba-tiba dia tenggelam ditelan zaman karena memegang teguh idealisme, ia enggan larut dalam tuntutan pragmatisme politik. Sementara teman seangkatannya pada menduduki posisi penting dalam kekuasaan, karena menjadi pendukung Golkar, sementara ia tetap di Partai NU dan kemudian bergabung bersama PPP, yang saat itu menjadi partai oposisi paling potensial dalam melakukan kontrol terhadap kekuasaan.


Dengan sikapnya yang konsisten itulah perjuanggannya tidak dihargai oleh rezim orde baru, berbeda dengan temannya yang menjadi penopang rezim itu bisa menikmati kekuasaan, namun dengan menggadaikan idealisme mereka, dan bersedia amenjadi aparat untuk merepresi rakyat, pembelenggu kebebasan. Sebaliknya Zamaroni menentang rezim represifitu, karenanya ia disingkirkan dari kekuasaan, seperti layaknya bukan seorang tokoh yang pernah berjasa pada republik ini. Padaahal ia seorang ketua umum PB PMII yang sekaligus menjabat sebagai ketua Kesatuan Akasi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang menumbangkan orde lama dan menegakkan orde baru.

M. Zamroni terlahir dari keluarga sederhana di kota Kudus Jawa Tengah. Kedua orang tuanya mendambakan puteranya menjadi seorang kiai, paling tidak mualim yang menguasai ilmu agama. Karena itu setelah tamat Sekolah Rakyat (SR), Zamroni melanjutkan sekolah ke Pendidikan Guru Agama -PGA- enam tahun di kota Magelang Jawa Tengah. Dengan susah payah, kedua orang tuanya mencukupi biaya pendidikan puteranya, dari hasil bercocok tanam padi di sawah dan ladang yang tidak terlalu luas. Namun tekad ibu bapaknya cukup keras, dan akhirnya Zamroni dapat menyelesaikan Sekolah PGA dengan baik.

Zamroni muda kemudian melanjutkan tugas belajar ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, setelah sebelumnya diterima menjadi pegawai negeri sipil di departemen agama.Jakarta,dan mendapat tugas mengajar di Magelang. Tugas inipun dapat diselesaikan dengan baik. Untuk beberapa tahun ia menetap di kota dingin ini dan berumah tangga, karena memenuhi keinginan kedua orang tuanya untuk cepat-cepat mendapatkan cucu-cucunya.

Tahun 1962 Zamroni hijrah ke Jakarta, sambil terus melanjutkan sekolah di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Tugas belajar ini ditunaikan dengan baik, meskipun Zamroni diberi tanggung jawab sebagai Kepala Sekolah PGA Negeri Mampang Prapatan Jakarta Selatan. Tugas rangkap belajar dan mengajar ini dirasakan cukup berat bagi Zamroni, dan karena anak muda ini suka berorganisasi, maka kesibukannya masih ditambah dengan ngurusi organisasi.

Dengan berorgasisasi, dia merasa semakin banyak teman dan kenalan baru yang akan membawa manfaat dalam tata pergaulan dan kehidupan. Itulah sebabnya ketika partai Nahdlatul Ulama mendirikan organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII pada tahun 1962, maka Zamroini yang baru dating dari Yogya itu segera bergabung ke dalam organisasi baru itu. Di Komisariat PMII Ciputat ini, Zamroni bergabung bersama-sama Ibrahim AR, Abdurrahman Saleh, Nadjid Muchtar,Chatibul Umam, dan yang lain-lain. Pengalaman di PMII ini dirasakan sangat berharga dalam perjalanan perjuangan sebagai mahasiswa di masa depan.

Menonjol Sejak dari Ciputat.

Sejarah berjalan demikian cepat, keberadaan PMII di IAIN Ciputat demikian menonjol. PMII menjadi organisasi ekstra mahasiswa terbesar, berimbang dan pernah menjadi yang terbesar di lingkungan IAIN Ciputat. Himpunan Mahasiswa Islam-HMI- yang sudah terlebih dahulu eksis, cukup terkejut menyaksikan geliat PMII yang diterima dengan tangan terbuka oleh para mahasiswa lama dan baru di IAIN. Sebelum ada PMII, HMI nyaris sendirian “menggarap habis” calon mahasiswa baru dan mahasiswa lama. Keberadaan PMII seakan menjadi sparing partner bagi HMI, sehingga dia bisa bertindak lebih santun dalam merekrut anggota.

Salah satu alasan mengapa keberadaan PMII diterima baik mahasiswa baru, karena mereka adalah putera puteri warga NU. Sebelum ada PMII, tidak sedikit mahasiswa yang puteri-puteri warga NU, bahkan anak-anak tokoh NU, “terpaksa” masuk HMI demi menyalurkan hobi berorganisasi dan bakatnya. Tetapi setelah ada PMII, mereka tumplek blek masuk organisasi yang akidah dan ideology politiknya sejalan dengan basis kulturalnya yaitu NU. Sebab selama di organisasi mahasiswa lain mereka mengalami alienasi, karena ada kesenjangan cultural.

Pergulatannya di PMII Cabang Ciputat, membuat nama Zamroni kian menonjol dan terkenal. Namun sebagai seorang santri, ia tetap berlaku low profile alias andap asor dan rendah hati. Dengan posisi itu aksesnya kepada tokoh-tokoh di PBNU sudah semakin terbuka. Sebagai sesama orang Kudus, tokoh NU yang di kemudian menjadi salah seorang Ketua PBNU yaitu HM Subchan ZE, sangat memberikan perhatian kepada Zamroni. Dia dinilai sebagai sosok anak muda yang potensial dan mempunyai masa depan dalam kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Dalam perjalanan sejarahnya “pertarungan” antara HMI dan PMII ketika itu terasa semakin menguat. Entah apa yang menjadi alasan bagi mereka, yang jelas Kafrawi Ridlwan dkk. di Yogyakarta sempat mendemo Menteri Agama Prof KH Saifuddin Zuhri.

Sumber: nu.or.id

___
Artikel ini copas dari web PB PMII www.pmii.or.id

Mengenal Iqbal Assegaf, Ketua Umum PB PMII 1988-1991

Kematian, siapakah yang dapat menebak kapan datangnya ? Tidak seorangpun, tidak siapapun. Ia, seperti kata Jean Paul Sartre, pemikir Prancis, itu adalah sebuah piringan hitam yang pecah sekaligus sebuah kehidupan yang lengkap . Demikian , ketika suatu sore, disenja Jakarta yang basah, kematian itu tiba- tiba datang membawa kabar berpulangnya sahabat Muhammad Iqbal Assegaf. Kami terhenyak. Kabar itu sulit sekali dipercaya karena tidak  seorang dari kami, sahabat- sahabatnya, pernah menduga dihadapkan pada kenyataan yang menyesakkan dada itu.





Sore itu, Sabtu, 13 Februari 1999, ketika sahabat-sahabat Ansor sedang melaksanakan Program Pelatihan Pekerja Terampil ( P3T) di Graha Wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, kabar duka itu datang mengusung awan hitam diatas kepala kami. Seseorang datang dari rumah sakit Islam Jakarta memberi tahu bahwa ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Drh. Muhammad Iqbal assegaf, anggota FKP DPR RI, mengalami kecelakaan dipintu tol Plumpang, Jakarta Utara dan meninggal dunia beberapa saat kemudian.

Kabar yang mengejutkan itu serta merta membuat pelatihan langsung ditutup. Seluruh peserta pelatihan bersama-sama langsung menjenguk kerumah sakit. Tapi itulah rupanya kesempatan terakhir sahabat-sahabat Ansor untuk bertemu dengan Iqbal. Kecelakaan dipintu keluar tol Cawang – Tanjung Priuk itu bukan saja menyebabkan mobil BMW biru tua B 63 RI yang dikemudikan Iqbal ringsek, tapi juga mencedrai nyonya Rahma Muhammad, SH Isterinya bahkan menyebabkan menyebabakan Iqbal sendiri harus menghadap kepada Al khaliq, Allah subhanahu Wata’ala , sang maha pencipta.

Hari itu, masih dalam suasana  lebaran Iedul Fitri 1419 H, Iqbal bersama Istrinya berniat untuk menghadiri halal bil halal warga Maluku Utara di galanggang remaja Jakarta Utara. Dengan mengemudikan sendiri mobilnya, keduanya meluncur dijalan  Ir. Wiyoto Wiyono Wiyono. Namun sesaat setelah keluar pintu Plumpang, mobilnya slip karena menghindari genangan air dan menabrak tembok pembatas jalan hingga menerobos masuk jalur jalan yang berlawanan arah. Saat itulah sebuah mobil colt L 300 yang melaju kencang menabrak BMW yang dikemudikan Iqbal hingga bagian kanan BMW tersebut penyok dan Iqbal yang duduk dibelakang stir, terjepit.

Menurut iryanto, saksi mata yang mengemudikan mobil sekitar 50 meter dibelakang mobil yang dikemudikan Iqbal, begitu melihat kecelakaan tersebut kemudian ia memberhentikan mobilnya dan segera memberikan pertolongan . Iryanto menuturkan , setelah kecelakaan hebat  itu, Iqbal tampak masih bernapas dan sempat mengucapkan kalimat Syahadad.  “Tetapi Kondisinya sudah sangat payah dan bebebrapa saat kemudian  Iqbal menghebuskan nafasnya yang  terakhir,” katanya.

Sedangkan Rahma Muhammad Iqbal SH, Istrinya, menurut Iryanto, waktu itu masih sadarkan diri dan sempat berteriak meminta pertolongan . Beberapa orang kemudian membawa Iqbal kerumah sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta. Selanjutnya Iqbal dibaawa kerumah sakit Cipto Mangunkusumo untuk di otopsi. Dari rumah sakit Cipto Jenazah Iqbal lalu dibawa kerumah duka untuk dimandikan dan dishalatkan. Jenazah iqbal lalu dimakamkan dipemakaman keluarga Al Hadad, kalibata Jakarta Selatan dalam sebuah upacara sederhana yang dihadiri keluarga, kerabat , teman teman dan sahabat Pemuda Ansor dan Banser DKI Jakarta. Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raji’uun.

Kematian itu, sungguh, meskipun setiap kita pernah menyaksikan musibah serupa, tapi saat ia datang menjemput sahabat  Iqbal dalam usianya yang masih 42 tahun, sangat tak mudah untuk diterima begitu saja sebagai “suratan takdir” yang sudah digariskan oleh Allah SWT. Walaupun kita tahu Allah punya rencana sendiri terhadap semua hambaNya, namun taks erdikit sahabat-sahabat Ansor yang bertanya mengapa Allah begitu tega memanggil Iqbal pulang ke haribaanNya justru disaat ia sedang berada dipuncak penitian karirnya.Tak sedikit orang yang bahkan mencoba untuk meraba-raba rahasia Allah, sang maha pencipta itu. Mengapa Allah terlalu cepat memanggilnya justru ketika ia sedang berupaya membangun cita-cita luhurnya untuk keluarga, organisasi, bangsa dan negaranya ?

Sampai hari ini tak seorangpun yang tahu apa jawabannya. Tak seorangpun yang bisa menebak rahasia semesta Allah sang Maha. Sebab hanya dialah yang tahu rahasia apa yang ada dibalik kehendakNya itu. Sedang kiata hanya dapat mengambil hikmahnya. Memetik pelajaran dari garis takdir yang sudah ditentukanNya. Tak terkecuali garis takdir yang ditetapkanNya terhadap sahabat M. Iqbal Assegaf, betapapu kita semua menyesali kepergianNya.

LAHIR DARI DARAH PEJUANG

Lahir dikampung Bajo, sebuah desa terpencil dipulau Bacan kab Maluku Utara pada pada tanggal 12 oktober 1957, Iqbal adalah anak keempat dari duabelas orang bersaudara yang semuanya laki-laki. Kedua orang tuanya, Bapak Husein Ahmad Assegaf dan Ibu Rawang Abdullah Kamarullah, adalah orang desa yang hidup sangat sederhana namun sangat dihormatioleh pendududk desa . Ayahnya selain berpengetahuan agama yang cukup luas, adalah keturunan langsusng dari Habib Umar Assegaf, adalah seorang pejuang kemerdekaan keturunan arab yang berasal dari Palembang dan menikah dengan Raden Ayu Azimah, Putri sultan Badaruddin II. Kira kira pada awal abad ke20. Habib Umar Assegaf yang berjuang bersama Sultan Badaruddin II melawan kolonialis Belanda, tertangkap dan keduanya kemudian dibuang ke Tondano.

Dari perkawinan Habib Umar dengan Raden Ayu Azimah ini lahirlah Abdullah Assegaf yang kemudian menikah dengan seorang wanita keturunan Belanda bernama Meyers dan dikaruniai empat orang anak. Ketika Ny. Meyers meninggal dunia, Abdullah Assegaf menikah lagi dengan seorang wanita setempat yang masih memiliki hubungan darah dengan kyai Mojo, salah seorang Panglima perang Pangeran diponegoro yang tertangkap oleh Belanda dan dibuang ke Tondano. Keturunan kyai Mojo di Tondano inilah yang kemudian dikenal sebagai keturunan bangsawan Suratinoyo. Dan Abdullah Assegaf menikahi salah seorang perepuan dari bangsawan Suratinoyo. Lalu dari perkawinannya dengan putri bangsawan Suratinoyo inilah lahir kakek Iqbal, yaitu Habib Ahmad Assegaf.

Di Ternate dipagi hari Iqbal masuk sekolah umum di SD Islamiyah dan siang harinya ia sekolah agama dimadrasah Diniyah Awwaliyah Al- Khairat.Ada cerita menarikdari masuknya Iqbal ke madrasah Al Khairat ini. Karena di SD Islamiyah itu masuk pagi, siang harinya ia suka main ke madrasah dan suka mengintip anak- anak yang belajar lewat jendela kelas. Iqbal sangat ingin belajar dimadrash itu tapi dia tidak punmya uang. Hampir setiap hari Iqbal main kemadrasah tersebut. Tapi dia dapat mengintip murid- murid yang sedang belajar dari balik jendela kelas.

Suatu hari seorang guru memberikan pelajaran “nahwu” dan mengajukan pertanyaan pada murid-murid yag sedang belajar dikelas itu. Tak ada seorang murid yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Tapi Iqbal dari balik jendela kelas, tanpa malu-malu menjawab pertanyaan guru tersebut. Jawaban Iqbal rupanya membuat guru madrasah tersebut tertarik. Ia lalu mengajak Iqbal Masuk kedalam kelas. Sejak itu Iqbal bahkandibolehkan menjadi murid di madrasah tersebut. Bukan main senang hati Iqbal. Ia langsung masuk kemadrasah itu dan langsung duduk dikelas dua. Setelah catur wulan pertama, tanpa mengikuti ujian akhir, Iqbal malah lompat kelas lagi kekelas tiga. Dimadrasah Al khairat ini pulalah bakat berpidato Iqbal mulai terlihat. Setiap kali ada lomba berpidato antar siswa, Iqbal selalu mengikutinyadan selalu tampil jadi juara.

Aba Ye mengisahkan, pada waktu-waktu luang, selain sekolah iapun mengajari Iqbal berdagang. “Kami punya usaha membuat roti, dan Iqbal aku suruh untuk menjual roti-roti itu,” katanya. Setiap hari, dengan membawa keranjang rotan berisi roti yang ditaruh belakang sepedanya, Iqbal mengayuh sepedanya keliling kota Ternate. “Saya senang karena dia tidak malu melakukan pekerjaan itu,”ujar Aba Ye. Dengan cara itu, ujar Aba Ye, Ia berharap agar Iqbal dapat memperoleh pelajaran berharga untuk masa depannya. “Supaya dia tahu mencari uang tidak mudah. Sebab tanpa bekerja seseorang tidak akan dapat berbuat banyak untuk hidupnya,”kata Aba Ye. Iqbal sendiri melakukan pekerjaan menjadi penjual roti itu sampai ia duduk dikelas tiga SMA.

Selain mejual roti, dirumah pamannya itu Iqbal juga diberi tugas mengisi bak air. Di Ternate, sumur keluarga Aba Ye sangat dalam karena rumah mereka ada diatas bukit. Mungkin karena tugas itulah tubuh Iqbal ketika kecil terlihat kekar dan berotot. Tapi ujar Aba Ye, karena anak-anaknya juga banyak tugas mengisi bak air tak sepenuh oleh Iqbal. “Saya membuat jadwal dan membagi tugas mengisi bak air itu dalam kelompok. Iqbal satu ke;lompok dengan anak saya Najib,” ujar Aba Ye.Tapi waktu itu kata Aba Ye, Iqbal justru meminta agar ia sendiri saja yang mengisi bak ait tanpa harus menyertakan Najib. “Saya haru terharu mendengar permintaanya itu. Padahal saya akan menunjukkan padanya bahwa saya tidak pilih kasih. Saya katakan padanya bahwa semua anak saya harus bekerja,” kenang Aba Ye.

Aba Ye menyebutkan, sejak kecil Iqbal adalah anak yang penurut, sopan dan hormat pada yang lebih tua. “Dia tidakpernah melawan pada saya.Apayang saya katakan tidak pernah dibantahnya,” tutur Aba Ye. Tapi di sisi lain, kata Aba Ye, dia selalu ingin tahu kesulitan orang lain. Jika ada persoalan, dia selalu ingin ikut membantu. Saya sering ingatkan dia jangan suka mencampuri masalah orang. “Tapi itu rupanya sudah menjadi pembawaannya,” ujar Aba Ye lagi. Menurut Aba Ye, Iqbal adalah seorang yang tidak bisa melupakan begitu saja jasa orang kepadanya. Bahkan, kata Aba Ye, dia selalu ingin membantu siapa saja yang kesusahan. “Dia tidak bisa melihat penderitaan orang lain. Bahkan setelah ia di Jakarta, saya sendiri sering sekali  menerima kiriman uang darinya,” tutur Aba Ye.

HIDUP ITU TIDAK SENDIRI

Diluar pelajaran tentang kerasnya perjuangan hidup yang dialami Iqbal dimasa-masa kanak-kanaknya itu, orang yang justru berpengaruh pada pem,bentukan watak dan kepribadian Iqbal di kemudian hari adalah ayahnya sendiri. Ayahnyalah, Habib Husein Ahmad Assegaf, yang menanamkan pemahaman tentang nilai-nilai filosofis kehidupan kepadanya.. Hal ini bisa dimaklumi karena, menurut Rahma, sekalipun Iqbal sejak SD kecil tinggal di Ternate, namun setiap kali liburan sekolah tiba, dia tetap menyempatkan diri pulang keBajo bertemu ayahnya. Selama pertemuan di masa liburan itulah ayahnya selalu bercerita sejarah kebesaran Islamdan keduanya kemudian menghabiskan waktu dengan berdiskusi tentang persoalan tersebut. Terkadang ayahnya menceritakan sejarah itusambil mengajaknya memancing ikan dilaut.Bahkan ketika kemudian Iqbal sudah sudah duduk dibangku SMA dan ia menyadari potensi yang dimiliki anaknya itu, dia pun mulai menceritakan tentang kandungan-kandungan filsafat karya beberapa filosof terkemuka, diantaranya pemikir Muhammad Iqbal. Bahkan, selain hal-hal bersifaty rasional tadi, ayahnya juga mengajarkan masalah-masalah yang menyangkut tarekat. Iqbal sendiri, dikemudian hari, mengaku msangat bangga pada ayahnya tersebut.

Bagaimana besarnya pengaruh pendidikan watak yang ditanamkan ayahnya itu mepengaruhi kehidupan Iqbal dikemudian hari, bisa dilihat dalam berbagai aktivitas Iqbal bahkan sampai akhir-akhir masa hayatnya. Sebagai anak lelaki, sejak kecil Iqbal sudah diajari mengenai bahwa dia tidak hidup sendiri didunia ini. Sejak kecil dia sudah diajari dirinya adalah bagian kecil dari komunitas besar lingkungan masyarakatnya. Dan ajaran seperti itulah, ujar Iqbal suatu kali, yang selalu mendorongnya untuk tetap berdiri pada kerangka berfikir dan keinginan bertindak secara komunal. Bahkan ajaran seperti itu pula yang selalu mendorongnya untuk tampil sebagai “pioneer” bagi penyelesaian problem yang dihadapi teman-temannya.

Karenanya, bukan hal aneh ketika Iqbal menjadi ketua Umum PMII atau saat ia menjadi ketua Umum GP Ansor sampai menjelang akhir hayatnya, didatangi teman-teman dan adik-adik organisasssinya yang minta uang untuk biaya kuliah atau untuk mebayar uang kost. Bahkan tidak aneh pula kalau sebagai ketua umum Organisasi pemuda dilingkungan NU, Iqbal rela meminjami sekedar kopiah dan ikut mengantarkan adik kelasnya diorganisasi yang ingin menikah sekalipun ia harus rela keluar masuk pelosok-pelosok desa. Iqbal tak pernah sayang mengeluarkan uang maupun tenaganya untuk menolong sahabat-sahabat yang mebutuhkan pertolongan itu. Tidak sedikit Adik kelas atau rekan organisasi yang pernah “dibantunya  itu kini malah tampil sebagai politisi atau usahwan muda yang sukses. Dan keikhlasan seperti itu, tidak bisa tidak, adalah cerminan sebuah sikap solider yang sangat dimotivasi oleh pendidikan yang ditanamkan ayahnya dan pengalaman hidup Iqbal sendiri pada masa kecilnya.

Solidaritas Iqbal terhadap lingkungannya itu bisa dilihat ketika tahun 1997 misalnya, saat Jakarta dilanda banjir besar dan rumah-rumah penduduk yang tinggal di bantaran kali Ciliwung terendam air, Iqbal, pada suatu malam mengajak isterinya membawa makanan. dan mendatangi penduduk yang terkena musibah itu di kawasan Kalibata. Rahma menuturkan, mulanya dia menolak dan meminta Iqbal untuk datang besok siang saja. Tapi Iqbal justru bersikeras untuk datang malam itu juga. “Saya akhirnya mengalah. Malam itu juga kami datang ke Kalibata dengan membawa makanan. Tapi karena gelap, sampai-sampai bemper mobil yang kami tumpangi penyok karena menabrak trotoar,” cerita Rahma. Tapi Iqbal, kata Rahma, justru tenang saja. Ketika Rahma akhirnya bertanya mengapa untuk memberi bantuan saja harus malam-malam, Iqbal menjawab bahwa itulah yang dilakukan Imam Ali r.a. Menurut Rahma, ketika itu Iqbal mengatakan bahwa Imam Ali La justru memilih malam hari untuk membantu orang agar ketika tangan kanannya memberi bantuan tangan kirinya tidak mengetahui.

Kesadaran berpikir dan bertindak atas nama kepentingan  “orang banyak” itulah yang agaknya turut membentuk kemampuan Iqbal sebagai organisatoris. Dan itulahlah yang membuat ternan-ternan di masa kanak-kanaknya di SMP Negeri Ternate mendaulatnya untuk menjadi Ketua OSIS hingga ia tamat pada tahun 1974. Pendaulatan itu terulang kembali ketika ia menanjak remaja dan meneruskan sekolahnya ke SMA Negeri Ternate. “Waktu itu, secara aklamasi, ternan-ternan di SMA Negeri Temate meminta saya menjadi Ketua OSIS,” kenang Iqbal yang lulus dari sekolah menengah tersebut pada tahun 1977.

Sebelum terlibat dalam semua aktivitas kemahasiswaan/kepemudaan, Iqbal sesungguhnya sudah menyimpan catatan sejarah yang sangat panjang tentang keterkaitannya di organisasi. Masuk SMP Negeri Ternate tahun1972, ia sudah menjadi Ketua OSIS di SMP tersebut hingga akhimya lulus pada tahun 1974. Bahkan .SMP itu bakat kepemimpinan dan keberanian Iqbal sudah nampak menonjol. Menurut Ismunandar, teman semasa kecilnya, ketika menjadi ketua OSIS itu Iqbal bahkan sempat dipukul pak Lestaluhu, kepala sekolah SMP Negeri Ternate. Pasalnya karena Iqbal, tanpa sepengetahuan para guru, menyuruh seluruh siswa lelaki di sekolah itu memakai celana panjang pada setiap hari Sabtu. “Anehnya teman-teman mau saja,” kata Ismunandar. Keberanian serupa juga terlihat ketika, masih di SMP dulu, Iqbal berani ikut lomba pop singers dan bersaing dengan penyanyi-penyanyi yang sudah terlatih. “Sekalipun dia tak pemah jadi juara, tapi keberaniannya untuk tampil di atas panggung cukup luar biasa,” ujar Ismunandar.

Soal keberanian Iqbal bertindak dan mengambil keputusan itu dibenarkan juga oleh.Ismet Al-Hadar. “Begitu ,beraninya Iqbal sampai-sampai dia pernah dipecat sebagai Ketua OSIS SMA Negeri Temate. Soal itu, kata Ismet, diceritakan Iqbal padanya lewat surat. “Dan itulah satu-satunya surat yang pemah ditulis Iqbal untuk saya,” kat a Ismet lagi. Dalam surat itu, kata Ismet, Iqbal menceritakan perlakuan tidak adil Ibu Siti Hawa, Kepala Sekolah SMA Negeri Ternate yang memecatnya sebagai ketua OSIS di SMA tersebut. “Waktu itu saya sudah menetap di Jawa. Dan Iqbal, dalam suratnya mengeluhkan pemecatan itu,” kisah Ismet. Ismet menceritakan, menurut Iqbal pemecatan itu dilakukan karena dia dianggap tidak disiplin dan absen saat sekolah mengadakan acara ‘penting. Padahal, menurut Iqbal, dia tidak bisa mengikuti acara sekolah karena ayahnya, orang yang sangat dihormatinya, meninggal dunia dan dia harus pulang ke Bajo untuk menghadiri pemakamannya. “Pemecatan itu merupakan tindakan sepihak dari kepala sekolahnya,” tulis Iqbal dalam suratnya.

Namun Ibu Siti Hawa membantah alasan pemecatan yang dikemukakan Iqbal itu. Menurutnya, sebagai murid yang pintar dan unggul dalam beberapa mata pelajaran, Iqbal pada dasamya memang anak yang baik dan taat pada guru serta orangtua. “Sholatnya juga tidak pemah tinggal,” kata Ibu Siti Hawa. Namun, tambahnya, karena kepintarannya itu Iqbal suka over acting. “Dia selalu merasa paling pintar di antara teman-temannya. Dan karena sifatnya itulah saya memecatnya sebagai Ketua OSIS,” ujar Ibu Siti Hawa. Ia menambahkan, tidak. ada maksud apapun dari pemecatan Iqbal waktu itu. “Sayabermaksud baik. Saya ingin memberikan pembinaan kepadanya agarsifat merasa paling pintar itu tidak terulang lagi di kemudian hari,” kata ibu Siti Hawa. Sebab, tambahnya, pada saatnya nanti Iqbal pastilah akan hidup dan b’ergaul dengan masyarakat lain. “Jadi pemecatan itu saya lakukan untuk memberi pelajaran kepadanya bahwa sifat merasa paling pintar itu tidak baik,” ujar Ibu Siti Hawa.

Pria berpenampilan trendy dan selalu tampil tenang ini sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi aktivis. Sejarah panjang keterlibatannya di berbagai organisasi kepemudaan, di kampus maupun di luar kampus, membuktikan hal itu. Komitmennya terhadap dunia kepemudaan di Indonesia dan intensitas pergulatannya dalam berorganisasi, pada akhirnya ikut memperkokoh anggapan itu. Meski terkadang suka meledak-ledak, kiprah Iqbal tetap menjadi fenomena menarik dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat terhadap organisasi kepemudaan di Indonesia. Setidaknya hal itu mulai terlihat ketika dia menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) masa bakti 1988-1991.

Semasa memimpin PB. PMII itulah “ghirah” politik Iqbal mulai mengkristal. Pada periode ini, sebagai Ketua Umum PMII Iqbal sempat membuat merah telinga beberapa pejabat pemerintah Orde Baru. Padahal saat itu mayoritas organisasi kepemudaan tampil lebih sebagai “pak turut” dan semata-mata tunduk pada kemauan pemerintah ketimbang sebagai anak muda yang kritis. Namun Iqbal mendobrak kebekuan itu.
Ketika terjadi musibah terowongan Mina pada musim haji tahun 1990 yang menewaskan sekitar 1600 jamaah haji asal Indonesia, Iqbal, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dengan lantang mengeritik kinerja Departemen Agama dalam urusan penyelenggaraan haji tersebut dan meminta menteri agama Munawir Sadzali (alm) mundur dari jabatannya.

Pernyataan keras PMII itu sebenarnya dilontarkan Endin Soefihara, salah seorang Ketua PB. PMII. Namun Iqbal yang ketika itu berada di Amerika, menyetujuinya dan kemudian mengambil over permasalahannya. Menteri Agama Munawir Sadzali marah besar dan menganggap Iqbal tidak mengerti duduk persoalannya. Tapi tuntutan PMII itu justru disambut positif banyak ormas lain. Bahkan Ikadin, ketika itu, ikut menuntut agar menteri agama Munawir Sjadzali diadili di mahkamah Internasional karena keteledorannya.

Ghirah sebagai aktivis itu semakin menyala ketika Iqbal maju sebagai calon Ketua Umum GP Ansor dalam kongres Ormas pemuda itu di Palembang pada bulan September 1995. Dalam kongres itu, Iqbal yang berasal dari luar Ansor, justru terpilih menjadi Ketua Umum Ansor untuk masa bhakti 1995 – 2000. Terpilihnya Iqbal itu semakin memperkokoh sosoknya sebagai seorang aktivis yang memiliki visi dan konsepsi organisasi yang jelas. Pendaulatan itu sekaligus mempertegas eksistensinya bahwa PMII bukanlah anti klimaks dari (fitrah) kepemimpinannya sebagai aktivis tersebut.

Sumber: forluni.com

___
Artikel ini copas dari web PB PMII www.pmii.or.id