Sunday, October 9, 2016

Daging Sapi VS Daging Kerbau

Oleh: Teddi Hilmawan (Senior, Ketua Rayon 2014-2015)


Masyarakat indonesia yang gemar konsumsi daging sapi agaknya sedikit “ngempet” karena jika dihitung-hitung prosentasenya kurang mencukupi dengan jumlah penduduk yang ingin mengkonsumsinya. Sebagai negara agraria, malu mestinya jika daging masih menjadi barang langka untuk dikonsumsi. Tanah yang subur, dimana sangat cocok untuk beternak sapi tapi  na’as malah produk dagingnya krisis di negri sendiri. Fenomena seperti ini belum lama terjadi, dan mulai menjadi sorotan publik saat politisi kala itu terjerat kasus korupsi dalam kelola impor daging.

Melihat keadaan yang demikian, agak sulit tentunya untuk menafsirkan soal apa sebetulnya penyebab daging sapi menjadi sulit untuk diperoleh, atau bisa diperoleh namun harganya selangit. Persepsi awal yang muncul soal permasalahan itu adalah, pertama apakah para peternak sapi berkurang, kemudian kedua apakah pengelolaan dalam distribusi daging dibuat macet oleh mafia bengis?. Dalam menjawab pertanyaan itu, tentu diperlukan beberapa data yang akurat untuk mendukung kebenaran anggapan tersebut.

Negara yang dalam hal ini memiliki tanggung jawab untuk memberikan solusi tak butuh waktu lama untuk melakukan gerakan. Guna menekan harga daging yang semakin mahal, maka langkah impor daging dianggap sebagai solusi jitu untuk memenuhi konsumen dalam negri saat ini. Padahal langkah seperti ini secara mandiri tidak mampu menyelesaikan masalah di waktu yang akan datang kecuali bergantung pada strategi impor terus terusan. 

Dengan diberlakukan kebijakan impor daging sapi, dalam hal ini Negara Australia yang dipilih sebagai pemasok kebutuhan ternyatata juga belum bisa menyelesaikan masalah. Fakta ini juga makin mempermalukan mestinya, sebab Australia dimana keadaan geografisnya yang jau lebih tidak baik ketimbang Indonesia malah sukses memproduksi daging sapi yang melimpah bahkan mampu melakukan ekspor ke berbagai negara. Dipasaran ternyata harga daging sapi masih sangat mahal, bahkan sesekali pasokan dagingpun habis tak tersedia. Pemerintah kembali dibuat pusing dengan animo masyarakatnya yang mengeluh soal kesulitan peroleh daging sapi. Dan langkah pemerintah kali ini yang diambil adalah melakukan impor daging kembali, akan tetapi tidak pada daging sapi melainkan daging kerbau.

Upaya untuk menekan kebutuhan yang semakin tinggi akan daging sapi, agaknya pemerintah seperti menyerah dalam memberikan solusi yang setiap tindakanya tak kunjung menyelesaikan masalah. Langkah dengan mengganti impor daging sapi dengan daging kerbau menjadi aneh ketika dilihat dari mayoritas masyarakat indonesia yang cenderung tidak suka konsumsi daging kerbau. Sepertinya strategi pemerintah tidak untuk memenuhi kecukupan atas daging sapi, melainkan akan mengubah  selera konsumsi ke daging kerbau.

Harga daging kerbau yang lebih murah dan kandungan yang lebih bergizi ketimbang daging sapi akhir-akhir ini mulai ramai diberitakan media. Publik mulai dipertontonkan mengenai keungulan-keunggulan daging kerbau dan bagaimana cara mengolahnya menjadi masakan yang tak kalah nikmat dengan daging sapi. Tapi perlu diketahui bahwa, selera tak semerta-merta harus diganti karena terjadinya krisis yang tak kunjung selesai. Lagi-lagi rakyat masih dipaksa untuk mengikuti pola pemerintah atau secara kasarnya rakyat belum terbebasakan dari belenggu penindasan walaupun sudah merdeka.

Jika Negara benar-benar menerapkan sistem demokrasi, tentu kedaulatan rakyat adalah segala-galanya diatas kepentingan yang lain. Sangat tidak mungkin jika Negara Indonesia ini lahir dari tidak terselesaikanya perdebatan antara kelas penguasa dan kelas tertindas seperti apa yang diungkapkan Lenin. Menurutnya, Negara ada hanya untuk melegalisasi kaum borjuasi (kelas Penindas) terhadap kaum Proletar(Kelas tertindas). Negara hadir bukan untuk memberikan kenyamanan melainkan hanya sebagai medium untuk meredam konflik yang bermuara pada langgengnya kalangan pemodal yang tak pernah kenyang meraup keuntungan dan terus menindas orang-orang rendah. Apakah rakyat perlu untuk melakukan aksi revolusioner dalam menumpas penindasan yang tak kunjung rampung sampai saat ini??? 

Terbit Pertamakali di Simaknews.com


EmoticonEmoticon