Oleh: Ahmad Mustaqim (Kader)
"Tugas kita sebagai manusia adalah memelihara pikiran-pikiran yang kita inginkan, memperjelas apa yang kita inginkan di dalam benak, dari situ kita mulai membangun salah satu hukum terbesar di Semesta, dan itulah 'Law of Attraction'. Anda tidak hanya menjadi apa yang paling Anda pikirkan, tetapi Anda juga meraih apa yang paling Anda pikirkan." (John Assaraf)
SATU pesan yang membukakan pikiran saya tentang hukum semesta. Pesan ini saya dapatkan dari buku The Secret karya Rhonda Bryne. Sebuah buku yang mengupas tentang kekuatan pikiran. Itulah Law of Attraction—Hukum tarik menarik.
Jika Anda membaca buku ini, saya jamin bakal bosan. Apalagi kalau rasa penasaran Anda hanya sedikit. Buku ini bukanlah novel atau story yang menarik, hanya sekumpulan ungkapan tokoh dan sedikit penjelasan.
Law of Attraction (LOA), saya mengenal istilah ini sejak kelas tiga SMA. LOA adalah kekuatan pikiran kita, dengan maksud apa saja yang kita pikirkan sejatinya bisa kita dapatkan. Misalnya, Anda menginginkan smartphone baru, maka dengan LOA ini, Anda akan mendapatkan smartphone itu. Simpelnya, apapun bisa Anda dapatkan dengan LOA.
Menurut hukum ini, pikiran kita bagaikan magnet. Ketika kita memikirkan yang positif (misalnya, ingin smartphone baru) maka energi positif lainnya akan tertarik oleh pikiran kita, dengan begitu jalan untuk mendapatkan smartphone akan terasa mudah, dan akhirnya kita mendapatkan apa yang diinginkan.
Dulu, saking percayanya dengan hukum ini, saya menggunakannya untuk masuk di perguruan tinggi yang diharapkan. Selalu saya memikirkan perguruan tinggi itu, sebelum dan sesudah tidur. Tapi, ternyata tak berguna, saya gagal lulus.
Setelah saya baca kembali. Ternyata saya mengetahui kesalahan saya, hanya kurang memahaminya saja.
Jadi memang benar, pikiran kita adalah magnet. Misalnya lagi, ketika kita memikirkan sesuatu dengan rumit maka energi (rumit-rumit yang lain) akan tertarik dan berkumpul pada pikiran kita, lalu terjadilah tumpukan kerumitan dalam pikiran (coba pikirkan saat Anda kerumitan tugas kuliah), akhirnya kita akan terus berkeluh kesah.
Apakah hanya dengan memikirkannya saja kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan? Yang jelas, konsistensi kita dulu yang lebih utama dipikirkan. Ketika kita memikirkan untuk menjadi Profesor, kita akan memancarkan sebuah energi (keinginan), kemudian energi itu menarik energi lainnya dan berkumpul, hingga nantinya akan memberi semangat pada kita untuk menjadi profesor.
Maka yang terjadi, kita akan terus menjalani apapun rintangan yang dihadapi dengan semangat, sebab pikiran kita yakin pasti bisa menjadi Profesor.
___
Mau baca bukunya tapi belum punya? Silakan komentar dibawah dan tinggalkan CP. Atau hubungi langsung saja ke Saya.
Mau baca bukunya tapi belum punya? Silakan komentar dibawah dan tinggalkan CP. Atau hubungi langsung saja ke Saya.

EmoticonEmoticon