Sunday, October 9, 2016

Menggugat Tontonan Kita

Oleh: Meilinda Anjarsari (Alumni, Ketua Rayon 2013-2014)



Hadirnya budaya pop sebenarnya siasat meruntuhkan borjuisme seni tinggi (avant-garde) yang diproduksi demi kepentingan artistik dan bukan massal. Namun larut terlalu dalam pada budaya pop juga membawa pada pesimisme kultural. Bahan yang buruk akan menyingkirkan yang baik, karena memang lebih mudah dipahami dan dinikmati.”

Ungkapan D. Mac Donald di atas, hendak mengingatkan kita tentang televisi yang tidak lahir dari ruang kosong yang hampa makna, tetapi merupakan sederet penanda (signifier) yang membawa bersamanya sederet penanda atau makna (signifieds), menyangkut gaya hidup, karakter manusia, nilai kepemimpinan, hingga wajah realitas social-politik masyarakat bangsa ini.

Televisi adalah lukisan realitas masyarakat kita, di ruang keluarga sehingga makna keindonesiaan itu sendiri bisa dibaca secara lengkap di dalam program-program televisi, meskipun sangat ironis dan memprihatinkan. Televisi dapat dilukiskan sebagai sebuah pemadatan atau peledakan ke arah terdalam realitas keindonesiaan secara keseluruhan sehingga menonton televisi berarti menonton totalitas lukisan wajah Indonesia itu sendiri the implosion of meaning.

Jean Baudrillard, dalam In the Shadow of the Silent Majorities (1983), mengemukakan bahwa media (seperti televisi) memproduksi semacam realitas kedua, yang mempunyai logikanya sendiri, yang pada titik tertentu dapat menetralisir bahkan membunuh realitas sosial politik di dunia nyata, yang menggiring pada kematian sosial dan politik. Yang ada hanya simulasi sosial dan politik.

Dalam realitas, yang kemudian terbentuk adalah semacam hiper-realitas, yaitu realitas yang hidup dalam wujud simulasinya di dalam ruang-ruang tayangan televisi, yang tidak lagi merepresentasikan realitas sesungguhnya di dunia nyata. Artinya, ada keterputusan antara realitas di dalam media, realitas di dunia nyata dan realitas masyarakat sendiri.

Program-program konsumtif tentang seks, tubuh, mistik, dan gaya hidup merupakan wujud pelarian lainya dari kegagalan memotret realitas kehidupan kita, program-program televisi tidak mampu menghasilkan dunia realitas yang produktif, cerdas, dinamis, kreatif dan beradab. Karena tak kuasa merealisasikan dirinya di dalam ruang real di atas, program televisi kita akhirnya justru terserap ke dalam medan magnet tontonan seks, gaya hidup, mistik dan tayangan pantat yang dianggap lebih menguntungkan.

Lantas, jika telah seperti itu kondisinya, apa yang harus kita lakukan? Memboikot tontonan program-program pertelevisian kita? Seberapa efektif langkah itu untuk mencegah racun itu menjangkiti ribuan generasi bangsa ini? Atau kita berdiam diri saja, sambil membiarkan apa yang menurut D. Mac Donald sebagai hal yang buruk yang mudah dipahami dan akhirnya dipraktekkan.

Jawaban atas pertanyaan terakhir tentu saja adalah, tidak! Bagaimanapun kita perlu menyadarkan penonton agar endemik salah tontonan ini tidak menyerang orang-orang baru termasuk generasi penerus kita dan yang sudah terjangkit untuk sadar. Kita harus mendesakkan secara terus menerus apa yang disebut Rajanit Guha, kesadaran pembangkang (rebel consciousness) melawan imperialisme budaya terhadap pertelevisian kita.

Mandulnya Komisi Penyiaran

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) masih sangat mandul dan terkesan tidak punya gigi untuk menjalankan amanat dari UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Dalam UU itu ada master plan demokratisasi penyiaran yang ideal. Sayangnya, implementasinya kacau balau. Sejauh ini KPI sebagai lembaga independen yang punya kewenangan cukup kuat untuk mengatur penataan frekuensi termasuk pemberian ijin dan sanksi.

Keputusan yang dikeluarkan oleh KPI selama ini lebih terkesan mengarah kepada kebijakan negosiasi dan transaksional dengan pemilik industri pertelevisian, akibatnya keputusan-keputusan KPI pun tampak mirip dagelan karena berisi tentang larangan tayang kartun-kartun yang dianggap tidak mendidik.

Sedangkan tayangan-tayangan seperti reality show yang berisi lawakan-lawakan yang penuh celaan dan caci-maki dan sinetron yang sebagian besar aktornya berperan antagonis dan berperilaku layaknya bukan manusia, mengumbar kekayaan, dan praktik-praktik kehidupan yang konsumtif, materialis dan hedonis lalai mendapat perhatian serius dari KPI, padahal program reality show dan sinetron itulah yang secara serius mengancam persepsi dan cara pandang generasi bangsa ini.

Praktik pengawasan yang dilakukan KPI, sangat wajar mengundang kecurigaan publik, bahwa KPI tidak pernah serius untuk menjalankan kewenangannya untuk menetapkan standar program siaran, menyusun peraturan dan menetapkan pedoman perilaku penyiaran (diusulkan oleh asosiasi/masyarakat penyiaran kepada KPI), mengawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran, memberikan sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran, melakukan koordinasi dan/atau kerjasama dengan Pemerintah, lembaga penyiaran, dan masyarakat;

Jika negara melalui KPI saja sudah tidak bersikap tidak tegas, dan hanya memainkan volume siaran pada wilayah-wilayah yang dinegosiasikan saja, hal yang bisa kita lakukan untuk saat ini adalah menyeleksi dan mengawasi tontonan televisi, kita tak bisa lagi berharap banyak pada negara, maka orang tua adalah orang harapan terakhir dan dianggap paling berpengaruh untuk mengawasi tontonan anak-anaknya di rumah.

Kesadaran baiknya dimulai dari hal kecil dalam keluarga. Kita semua tahu bahwa edukasi dan advokasi sama-sama butuh waktu, bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun agar menjadi sebuah kebiasaan. Agar kebiasaan yang lama hilang dan berganti menjadi kebiasaan yang baru (new social habits).

Jika setiap ikhtiar orang tua bisa maksimal mengadvokasi tontonan anak-anaknya, maka tontonan yang tidak menuntun dan dianggap sebagai ketidakbaikan tidak akan memenangkan perlombaan merusak generasi masa depan bangsa ini, namun jika cara terakhir ini juga tidak bisa berjalan efektif atau bahkan abai dijalankan, maka tak usah heran jika sadisme dan perilaku tak manusiawi lainnya menjadi berita sehari-hari yang terjadi di sekitar kita.

Terbit pertamakali di Ansornews.com


EmoticonEmoticon